Lelaki Berkacamata Itu

Tepat pukul 17.00, segera kumatikan laptopku. Lalu bergegas mengemasi barang-barangku ke dalam tas.

Dalam otakku hanya satu, sebelum kemacetan semakin menjadi di pusat kota itu, aku harus segera menuju terminal bis yang akan membawaku pulang ke rumah.

Setelah turun angkot, aku langsung berlari mencari bis yang bertuliskan DAMRI jurusan Ciburuy – Alun-alun via Cimahi-Padalarang. Belum terlambat ternyata, puluhan kursi itu masih menunggu tubuh-tubuh yang akan mendudukinya dan sedikit melepas lelah dari aktivitas keseharian mereka.

5 menit berlalu. Datang 2 lelaki muda, satu diantaranya membawa gitar. Mereka mengucap salam kepada seluruh penduduk di bis itu, lalu mulai menyanyikan sebuah lagu. Dilihat dari penampilan mereka, sepertinya usianya 3 tahun lebih muda dariku. Mungkin mereka berhenti sekolah, sehingga harus rela meloncat dari satu bis ke bis lainnya demi mendapatkan sepeser uang untuk mengganjal perut yang kelaparan. Mereka mengenakan jins dan kaos oblong yang sedikit bolong di bagian bahu, sepertinya menyesuaikan diri  dengan jenis music yang mereka bawakan. 2 buah lagu pop yang sedang nge-trend didendangkan di kancah music Indonesia. Bagiku cukup enak didengar, sekedar melepas penat yang tak karuan.

10 menit selanjutnya, setelah 2 lelaki itu turun dengan wajah yang terlihat kecewa karena plastik bekas permen  yang diedarkannya tidak terisi penuh, datang seorang bapak dengan membawa alat musik semacam harmonika. Hampir sama dengan 2 lelaki sebelumnya, ia mengucap salam dan menyapa para penumpang. Lalu dimainkannya harmonika itu, entah dengan nada apa, akupun kurang mengerti. Tapi paling tidak ia memiliki niat yang kuat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tidak hanya dengan menengadahkan tangan meminta belas kasihan. Tak sampai 5 menit kurasa, bapak itu segera menyudahi permainan harmonikanya dan mengeluarkan plastic permen yang juga digunakan untuk menampung recehan dari para penumpang. Meskipun ditolak dan hanya diberi senyum, bapak itu masih tetap tanpa ekspresi, datar. Ekspresi dari kepedihan hidup yang sulit ditebak.

15 menit sudah ku menunggu, tapi belum ada tanda-tanda mesin akan dijalankan.

Kuamati sekelilingku. Tepat di belakang kursi sopir, ada dua orang ibu yang sedang berbincang. Bisa kutebak, mereka adalah rekan kerja yang sedang membicarkan tentang bosnya ataupun rekannya yang lain dengan berapi-api. Kadang-kadang diselingi dengan suara berbisik, seolah khawatir orang dibelakangnya akan menguping pembicaraan mereka. Padahal ku yakin, terdengar pun tidak akan peduli.

Lalu di sudut sebelah kiri, ada seorang bapak yang terlihat lebih tua dengan balutan safarinya. Ia duduk dengan menopang tas kulit berwarna hitam diatas pahanya. Lalu tangannya merogoh pada saku di bagian dada dan mengeluarkan sebungkus rokok yang disertai dengan korek berwarna hijau. Matching dengan warna bungkus rokoknya. Ia mulai menyalakan rokoknya, meletakannya pada bibir dan menghirupnya dalam-dalam, lalu menyembullah asap yang kuyakin jika aku disampingnya akan membuatku terbatuk.

Asap -asap rokok yang bertebaran tidak hanya berasal dari pria bersafari itu. Masih banyak pria-pria lain yang melakukan hal yang sama di berbagai sudut. Jadilah bau tak sedap hasil dari keringat-keringat yang bercucuran, bercampur bersama kepulan asap-asap rokok itu. Mereka bekerjasa sama membuat pernafasan manusia semakin sesak.

5 menit kemudian, kursi-kursi tersebut sudah mulai memiliki tuannya. Mesin mobil sudah mulai menyala. Sang kenek berteriak “ciburuy…cimahi…berangkat..”

Beberapa detik setelahnya, naiklah seorang lelaki berkacamata. Ia mengenakan kemeja panjang berwarna dongker, celan bahan yang licin, serta rambut yang disisr klimis. Meskipun terlihat agak letih, dapat dipastikan ia memiliki paras yang diatas rata-rata. Ditambah lagi dengan kacamata yang bertengger di atas hidungnya  yang dapaat dikatakan cukup mancung, membuat penampilannya sangat meyakinkan, terlihat seperti orang yang sangat intelek. Kutebak usianya sekitar 20-25 tahunan, dan kuyakin ia masih single. Ia berjalan dengan santun, lalu duduk berjarak 2 baris didepanku. Aku dapat melihat punggungnya dengan jelas. Kemudian ia membuka Koran yang mungkin pagi tadi belum selesai dibacanya. Disebelahnya ada seorang ibu yang raut wajahnya menunjukkan keletihan yang sangat. Dapat kubayangkan, pagi hari ia harus mempersiapkan sarapan bagi suami dan anaknya sebelum ia sendiri mempersiapkan dirinya untuk berangkat bekerja. Sebuah hal yang wajar jika akhirnya ia tertidur dalam keadaan duduk di samping lelaki berkacamata itu.

Pandanganku masih belum beranjak dari sosok lelaki itu. Hampir setiap 2 menit sekali dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Wajah teduhnya fokus pada Koran yang sedari tadi terus dibacanya. Tubuhnya tak banyak bergerak, namun sesekali ia membenarkan kacamatanya yang merosot. Setelah hampir 20 menit  dengan jarak kurang lebih 10 km dari halte,  ia turun dengan tenang. Tubuh tegapnya melewati penumpang yang berdiri. Lamat-lamat kudengar suaranya mengucapkan kata “punten, pak.. punten, bu…”. Cukup sopan dilakukan dalam keadaan yang sangat tidak nyaman, berdesakan dengan banyak orang.

15 menit berlalu, aku masih dengan lamunanku. Perjalananku masih cukup panjang. Aku mulai kelelahan dan mataku mulai sayu, kelihatannya aku perlu untuk tidur sejenak. Kupejamkan mataku, dan kusenderkan kepalaku di punggung kursi yang cukup keras. Rasanya tidurku cukup pulas sampai aku mendengar seorang ibu berteriak, “Ya ampun…tas saya terbuka, dompet saya hilang. Masyaallah kemana dompet saya?”

Aku terbangun. Kurasa ibu itupun baru terbangun dari tidurnya yang sudah lebih dari 30  menit. Kupaksa untuk segera tersadar dan memutar memoriku pada beberapa menit kebelakang. Ya, ia adalah seorang ibu yang kuceritakan tertidur cukup lelap disamping lelaki berkacamata itu. Ia panik, semua orang di dalam bis juga ikut panik. Mereka menjadi waspada terhadap orang-orang disampingnya. Tak banyak yang bisa dilakukan, hanya kasak-kusuk yang semakin terdengar mendominasi suasana di dalam bis. Sang kondektur pun hanya bisa diam. Sedikit berbasa-basi menasehati untuk selalu berhati-hati. Ibu itu akhirnya turun, dengan raut wajah kecewa yang tidak bisa disembunyikan.

Aku pun hanya terdiam. Dalam hatiku berkata, “lelaki berkacamata itulah, yang seharusnya menjadi orang yang paling bertanggung jawab.”

Bis Damri di Bandung

ternyata, don’t judge the book by it’s cover adalah benar adanya…

resonansi 20 hari magang,  PP Bandung-Cimahi.

290710 / 18 Sya’ban 1431 H

 

sumber gambar: internet