harapku pada mereka

berharaplah hanya pada Allah, dan kau akan mendapatkan kebahagiaan itu.

“Karena hanya Allah-lah tempat segala harapan itu digantungkan
jika kau gantungkan harapanmu pada manusia, bersiaplah untuk kecewa dan sakit hati
Karena manusia itu tidak bisa diharapkan sama sekali
Tapi kalau kau gantungkan harapanmu pada Allah, Dia tidak pernah mengecewakan siapapun yang berharap dariNya. Dia tidak akan pernah memberi harapan kosong
Dia Maha Pengabul harapan setiap makhluknya yang berharap padanya.”

pagi ini,  matahari cukup bersahabat denganku. sinarnya tidak membuat aku perlu menyipitkan mata untuk menghalau panas yang biasanya cukup menyilaukan. aku melangkah dengan mantap, optimisku bahwa hari ini akan indah, memberikan semangat lebih dalam hatiku. aku berharap orang-orang akan menyambutku dengan riang, seriang hatiku.

5 menit setelahnya, aku  menunggu bis datang menjemputku.  20 menit berikutnya, belum juga muncul batang hidungnya. aku tetap berharap pada bapak sopir bis, agar ia segera datang menjemputku. dan akhirnya harapanku terwujud, 5 menit selanjutnya aku sudah berada dalam bis yang kutunggu itu.

aku kembali berharap, pak sopir mengemudikannya dengan kecepatan di atas rata-rata. tapi sepertinya harapanku itu sisa-sia. bis itu masih butuh penumpang, hampir setengahnya kosong. sudah pasti sang sopir akan menjalankannya perlahan, sembil menjaring penumpang yang menungu di tepi jalan.

setelah semua kursi terisi penuh, bahakan ada yang berdiri, pak supir menaikan kecepatanya hingga selevel dengan mobil-mobil pribadi di jalanan. namun beberapa meter setelahnya, kemacetan mulai menghadang. aku kembali panik, dan berharap lagi. semoga mobil-mobil kecil itu bergeser ketakutan  setelah klakson yang dibunyikan oleh pak sopir. (meski kedengarannya tidak mungkin, aku tetap berharap demikian). tentu saja harapku tidak terwujud. pengemudi mobil-mobil kecilpun memiliki kepentingan yang mendesak, mana mungkin mereka mengalah. semua pasti ingin cepat.

masih dalam kepanikan, akhirnya 10 menit kemudian bis yang kutumpangi sampai di pemberentian paling akhir dan aku bersiap turun. semua orang berebut untuk saling medahului menuju pintu bis. lagi-lagi aku berharap mereka mempersilakanku untuk berjalan duluan. tentu saja tidak mungkin bukan? mereka juga sama denganku, tergesa-gesa menuju tempat tujuan masing-masing.

setelah akahirnya berhasil turun, aku berlari kecil mencari tempat yang nyaman untuk memberhentikan angkot yang akan membawaku ke tempat tujuan. ketika angkot yang kubutuhkan datang aku segera melambaikan tanganku. sayangnya angkot itu kosong, hanya aku  sendiri. timbul kembali prasangka bahwa angkot tersebut akan ngetem (berhenti cukup lama untuk menunggu penumpang. red)  dan mengantarkanku pada keterlambatan yang sangat lama. tapi ternyata dibalik prasangkaku, aku masih gigih berharap. berharap bahwa sang sopir akan mengemudikan angkotnya dengan cepat, karena dikejar batas waktu setoran misalnya.

beberapa detik setelah prasangka itu muncul, ternyata sang sopir benar-benar mengemudikanya dengan cepat. aku bahagia, harapanku terkabul. seolah ada secercah sinar dalam hatiku, jika aku terlambatpun mungkin hanya 10 menit, dan akuberharap hal itu dapat dimaklumi oleh atasanku. tapi ternyata keadaan pak sopir  tidak sesuai dengan yang ada dalam bayanganku. 1  km setelah ia menancapkan gasanya dengan kencang, ia kembali berhenti di satu bagian sisi jalan, dan terdiam menunggu penumpang. sesekali gasnya ia mainkan, memberikan kesan bahwa mobl tersebut akan dijalankan. tapi ia memberikan harapan kosong padaku, mobil itu tetap tidak berjalan hingga 10 menit berlalu.

yaaa..akhirnya aku harus pasrah. aku pun tak berani berharap pada atasanku, bahwa dia akan memahami keadaaanku dan mau mendengarkan penjelasanku. kedengaran mustahil seprtinya, setelah harapan-harapanku satu persatu tidak  terpenuhi. pak sopir bis, pengemudi mobil-mobil kecil, pak sopir angkot, mereka semua memiliki kepentingan masing-masing. meraka bukanlah orang yang patut dipersalahkan atas keterlambatanku,  meski mereka adalah orang yang tepat untuk kucari dan membantuku menuju tujuanku, tapi ternyata harapan tak seindah yang dibayangkan.


sebuah analogi: bahwa hidup memang tidak jauh dari harapan,

cukup digantungkan padaNya, bukan pada siapapun. karena manusia ternyata memiliki kepentingan yang berbeda.

050810