lagi-lagi, pertanyaan itu…

Bulan ramadhan memang selalu penuh dengan kejutan. entah bagi orang lain, tapi setidaknya itu benar adanya bagi saya.  Tradisi bulan ramadhan di Indonesia pasti tidak jauh dari yang namanya silaturahmi. Setiap akhir minggu selalu saja ada undangan buka puasa bersama di rumah kerabat, termasuk dalam tradisi keluarga saya.

Minggu ini ada acara buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh kakak dari ayah saya. Dalam bahasa sunda dipanggil Uwa, untuk laki-laki ataupun perempuan. Kalau di jawa sama dengan pakde atau bukde. Keluarga kami memang bisa disebut sangat besar, 14 orang bersaudara dan setiap anggota keluarga sudah memiliki anak bahkan cucu. Ayah saya adalah anak laki-laki terakhir dan saya adalah anak perempuan pertamanya yang sampai saat ini ayah saya  belum pernah menjadi wali seperti kakak-kakkanya yang lain yang rata-rata sudah hampir lebih dari 1 kali menikahkan putri-putrinya. Jadilah saya sebagai buronan tahun ini. Semua pertanyaan yang datang pada saya memiliki motif yang sama. Rasanya ingin saya rekam jawaban sya, dan diputar kembali saat ada yang menanyakan hal yang sama.

Contohnya adalah percakapan di bawah ini dengan kakak perempuan ayah saya.  Tiba-tiba setelah salam, tanpa ada pembukaan menanyakan kabar, pertanyaan pertama yang dilontarkan adalah,

“Iraha atuh, neng?” (Kapan atuh, Neng?)

Neng adalah sapaan untuk wanita sunda yang dianggap masih muda.

“Iraha naon teh, Wa?” (Kapan tentang apa, Wa?)

“Iraha bade nikah teh? Alo-alo nu sanes mah tingali tos garaduh putra. Ari Eneng bade irah atuh? Tong lami-lami teuing lah..” (Kapan mau menikah? Keponakan yang lain sudah pada punya anak. Kalau kamu mau kapan? Jangan terlalu lama ya..)

“Aduh, Wa. Abdi teh 20 oge teu acan. Nembe bade taun ieu. Teu acan kaemutan.” (Aduh, 20 tahun saja saya belum. Baru mau tahun sekarang. Belum kepikiran”)

“Ya teu nanaon atuh upami naros iraha mah… kan hoyong terang aya rencana bade iraha.” (Ya gak apa-apa kan kalau cuma nanya. Kan pengen tau punya rencana kapan)

“Oh, iya. Teu sawios, Wa. Ya piduana bae, insyaallah 4 taun deui ti ayeuna.” (Oh iya, gak apa-apa. Doain aja, Insyaallah 4 tahun dari sekarang)

“Eleuh, lami keneh atuh eta mah. Ya mangga atuh sok, diduakeun ku Uwa. Belajar heula cing leres nya. Supados mangpaat kanggo jelema seeur” (Aduh, lama sekali itu mah. Ya silakan aja tapi, Uwa doakan. Belajar yang betul ya, supaya ilmunya bermanfaat untuk banyak orang)

“Muhun, Wa. Amiin. Haturnuhun” (Iya. Teriamkasih)

Dan percakapan yang berlangsung sambil menikmati kolak candil itupun diteruskan dengan cerita si Uwa tentang berbagai macam kisah hidupnya. Setelah selesai selam kurang lebih 10 menit dalam percakapan itu, saya beranjak pamit untuk mengambil air wudhu dan sholat maghrib.

Setelah selesai sholat maghrib, saya mengantri untuk makan besar. Kali ini bersama sepupu-sepupu yang usianya sekitar 3-5 tahun diatas saya. Dalam bayangan saya, kami akan membicarakan mengenai perbedaan dunia kerja dan kuliah. Tetapi ternyata pertanyaan yang serupa keluar dari mulut mereka juga. Kali ini dari kakak sepupu laki-laki saya.

“Kapan nyusul, teh?”

“Nyusul apa, kang?”  Akang atau disingkat Kang adalah panggilan untuk kaka laki-laki selain Aa.

“Nyusul Teh Anu. Kan udah dilamar kemaren bulan Juli.”

“Hah? Teh Anu udah dilamar?  Kok aku gak tau kabarnya ya. Ih, meni ga bilang-bilang.” Saya benar-benar tidak tau kalau salah satu kakak sepupu perempuan saya ada yang sudah dilamar dan akan menikah akhir tahun ini.

“Kamunya kemana aja, makannya up date gossip di Cimahi dong. Jadi kapan mau nyusul?” balik lagi pada pertanyaan itu.

“Waduh belum tau, Kang. Belum kepikiran. Akang sendiri kapan? Kan udah cukup umur tuh..” saya mencoba mengalihkan perhatian. Tapi sepertinya usaha itu sia-sia belaka.

“Alah, laki-laki mah masih lama. Yang perempuan yang harus cepet-cepet, jangan terlalu tua. Emang kamu ada niat kapan mau nikah?

“Wah, kang. 20 aja baru tahun ini. Belum kepikiran.” Berharap tidak ditanya dan diceramahi macam-macam lagi.

“Eh emang kamu teh taun 90 ya lahirnya? Ya bisalah 2 taun lagi dari sekarang. Yang penting mah siap. Usia tidak terlalu berpengaruh.”

“Iya, kang. Masih kecil kan kelahiran 90 mah? Justru karena itu. Belum ada persiapan sama sekali. Rencana umur 24 baru mikirin itu, kang..”

“Wah, kelamaan itu. Ya santai ajalah sambil jalan. Ga usah dipikirin. Tapi kalau udah dating jodoh mah, ya jangan ditolak ya..”

“Hehehheeeehehehehehheheeeee. Iya, Kang.”  Saya hanya bisa cengar-cengir mneghadapinya. Untungnya acara akan segera dimulai kembali dan percakapan itu segera terselesaikan.

Ya, sejujurnya saya belum nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan yang motifnya seperti itu. Belum siap menjawab, apalagi melakukannya. Tapi apa mau dikata, topic itu menjadi sangat hot tahun ini karena lebih dari 2 orang sepupu menikah di tahun ini, dan 2 diantaranya akan dilangsungkan di akhir tahun ini. Tak bisa saya bayangkan, apa yang akan terjadi satu atau dua tahun mendatang. Pertayaan sejenis ini akn muncul di setiap salam saya dengan mereka. Setelah berbasa basi dengan pertanyaan “kumaha damang?”, tentu pertanyaan-pertanyaan sejenis inilah yang akan saya hadapi.

Tapi saya dianggap sudah cukup umur untuk ditanyakan mengenai hal tersebut walaupun saya merasa masih agak tabu utnuk membicarakanya.  Ternyata,  saya sudah besar ya…

menjalani detik-detik terakhir di usia 19 tahun..

150810

5 Ramdhan 1431 H