Supir Angkot dan Gegap Gempita Merah Putih

Hari ini seperti biasa,  ritual magang saya selesai pukul 16.30. Kkarena sedang  bulan puasa, jam kerja selesai lebih cepat selama 30 menit.  Saya segera membereskan peralatan kerja dan pamit pulang kepada rekan satu ruangan. Kebetulan ada buka puasa bersama di kantor tempat saya magang. Tapi karena saya masih berstatus sebagai seorang mahasiswa magang, saya tidak terdaftar dalam hitungan mereka. Agak sedih  memang, tapi ya sudahlah. Beruntungnya hari ini saya diajak berbuka pusa bersama saudara yang juga sedang kuliah di Bandung, Alhamdulillah, agak sedikit mengobati kesedihan. Dan saya bergegas mencari angkot yang akan membawa saya ke tempat yang sudah disepakati sebelumnya untuk buka bersama.

Setelah mendapatkan angkot yang dimaksud, saya bisa bernapas lega dan berdoa agar tidak terjebak macet. Walaupun angkot tersebut sebentar-sebentar berhenti untuk mencari penumpang, tidak masalah untuk saya. Asal bisa sampai ke tempat tujuan sebelum adzan maghrib, itu sudah cukup. Dalam jarak sekitar 500 meter, ada 2 orang penumpang yang naik setelah saya. Dirasa sudah cukup untuk bayar setoran, pak supir menancap gas dan melaju tanpa henti.  5 menit kemudian, akhirnya terjebak macet juga. Maklum, kami sudah memasuki wilayah padat kendaraan. Alhasil cukup repotlah pak supir mengemudikan mobilnya.

Tiba-tiba  di tengah kemcetan tersebut, pak supir menyapa seorang pria paruh baya yang sedang duduk di kursi yang diletakkan di trotoar jalan sebelah kiri. Ia menganakan topi dan sandal jepit, kutebak usianya sekitar 30 tahunan. Ia langsung masuk dan duduk tepat di belakang supir. Kemudian mereka mengobrol dengan bahasa sunda yang “gaul”, jauh dari peradaban. Wajarlah, mungkin tingkat pendidkan mereka tidak sampai pada pemahaman untuk menggunakan bahasa daerah yang halus. Atau bahkan memang lingkungan hidupnya sudah terbiasa untuk menggunakan bahasa-bahasa yang menurut saya cukup keras untuk didengarkan oleh kedua daun telinga.  Si pak supir menyuurh bapak bertopi itu untuk tobat di bulan ramadhan,meminta untuk  ingat terhdapa anak istri yang ditinggal di kampung dan berharap ia pulang memabawa sedikit uang untuk memenuhi kebutuhan. Lalu dijawab dengan alasan, “justru karena sedang bulan puasa, istirahatlah 1 bulan. Kan sudah ada 11 bulan untuk bekerja.” Saya tidak ingin komentar terhadap percakapan yang ini. Tetapi percakapan setelahnya yang cukup menggelitik hati saya untuk berkomentar, dalam hati saja tentunya.

Satu ungkapan menarik yang tiba-tiba dilontarkan setelah percakapan diatas secara tiba-tiba adalah “yah, beda jaman beda pejuang.” Cukup terhenyak saya mendengar kalimat ini keluar dari mulut seorang laki-laki yang awalnya tadi sudah saya under estimate. Kalimat itu dilanjutkan dengan keluhan-keluhan lainnya, saling timpal dengan pria paruh baya itu. Masih dengan bahasa sunda gaulnya itu.

“Eta tingali motor meuni loba kitu. Ceunah teu boga duit, tapi keur meuli motor sanggup. Enya pake kredit, tapi da keneh we kaluar duit” (Liat coba itu motornya banyak sekali. Katanya tidak punya uang, tapi untuk beli motor kok bisa.)

Ungkapan itu keluar bertepatan dengan bergerombolnya pare pengemudi motor dihadapan angkot yang saya tumpangi dan menjadikan jalan yang akan dilewati terhalangi dengan tidak jelas, karena alur motor-motor itu memang semerawut.

Lalu dijawab oleh pria bertopi itu,  “euh, kan ayeuna mah aya kredit tea. Bisa dicicil saeutik-saeutik.” (eh, kan kalau sekarang ada jasa kredit jadi bisa dicicil sedikit-sedikit).

Hening sejenak.

“Ah, ayeuna mah meuli sangu tujuh rebu mah moal wareg, ngan saiprit. Baheula mah jamanna soeharto, ku 500 perak ge geus wareg. Teu hese milari duit keur dahar teh. Jamanna geus beda, pamarentahna oge lewih beda.”  (ah, sekarang mah beli nasi dengan harga tujuh ribu rupiah juga susah untuk kenyang, hanya dapet sedikit. Dulu ketika zaman soeharto, dengan uang 500 perak sudah kenyang. Tidak susah nyari uang baut makan.)”

Omongan pak supir dibalas dengan diam. Saya rasa penumpang lain di angkot itu pun berpikir hal yang sama. Namun mereka enggan untuk mnegutarakannya, termasuk saya. Seingat saya dulu, awal-awal menjadi anak SD, umtuk pergi ke sekolah naik angkot, saya hanya membutuhkan uang 500 rupiah untuk pulang-pergi. Itupun bisa dengan sedikit jajan di depan sekolah ketika istirahat. Sekarang, bahkan pengamen pun enggan menerima uang sejumlah itu. Lalu bagaimana dengan wacana redenominasi yang diusulkan oleh pejabat Bank Indonesia? Yah, sepertinya kan semakin panjang jika dibicarakan sekarang.

Kembali pada sang sopir dan temannya. Beberapa meter kemudian, angkot kami berpapasan dengan segerombolan pengendara sepeda di sore hari.  Dengan tertib mereka menggunakan jlaan raya, dipandu oleh satu orang dan yang lainnya mengikuti dengan patuh. Maklum, jika tidak nurut sedikit saja, bisa-bisa pengendara itu celaka terkena padatnya arus lalu lintas.

Dan pak supir kembali berkomentar, “nah, tingal lamun anu kieu mah enak kan urang oge nglana. Rapih, terbtib, teu pabalatak. Ewueh polusi deui. Coba lamun kabehan anu pake motor ngiluan pake sapeda oge, moal ya macet sigana.” (nah, liat jika keadaannya seperti ini kita juga enak melihatnya, rapih, tertib, tidak bernatakan. Juga tidak ada polusi, jika saja semua para pengendara motor ikut menggunkana sepeda, tidak aka nada macet sepertinya.”

Dan ditimpali oleh temannya, “Heueh, lah. Tapi da hese ayeuna mah. Jaman teh hayang nu serba cepet. Make sapeda mah lila, make motor mah gancang.” (Iya lah. Tapi sekarang susah untuk seperti itu. Jamannya ingin serba cepat. Pakai speda akan menjadi lama, sedangkan pakai motor leih cepat”

“Kiri, Pak.” Percakapan mereka terhenti. Sayangnya saya harus segera turun dan tidak bisa mendengarkan lebih lama lagi. Setelah membayar ongkos, Saya jadi membayangkan percakapan ini mungkin akan melebar ke berbagai topic tentang kritik mereka terhadap zaman yang katanya sudah berubah. Meskipun mereka orang kecil, tapi ternyata analisis ke-bangsa-annya sangat tajam dan tidak bisa diremehkan. Beberapa survey memang membuktikan bahwa masyarakat Indoenesia yang mayoritas adalah rakyat kecil mengatakan bahwa hidup di zaman Soeharto terasa lebih enak. Karena semuanya serba ada, mudah dan pasti. Jika dibandingkan dengan sekarang, semuanya harus didaptkan dengan perjuangan yang luar biasa. Yang bisa bertahanlah yang akan menang. Entahlah, saya tidak mengerti apa itu adalah hakikat demokrasi yang sebenarnya.

Satu hal yang ingin saya sampaikan pada pak supir dan rekannya, tetaplah berbicara selama bicara itu tidak dilarang. Mungkin saja suatu hari nanti ada pejabat Negara yang tidak sengaja duduk di dalam angkot anda (meskipun kedengarannya tidak mungkin), dan mendengarkan pendapat-pendapat yang cukup menohok, barangkali dia akan tersadar dan melakukan sebuah perubahan untuk bangsa kita yang besar.  Meskipun hanya sedikit, tapi itulah yang selalu dinanti. Semoga saja.

Agustus 2010
Gegap gempita merah putih, selalu ada harapan untuk menjadi lebih baik.
Untuk Indonesiaku yang ke 65.