Sebuah Peran: Karena Aku adalah Perempuan

Peran Perempuan Di Zaman Rasulullah Saw.

Rasulullah saw. diturunkan oleh Allah di Mekkah dengan tujuan yang tidak sederhana. Saat itu bangsa Arab dikenal dengan bangsa yang sangat kejam, suka melakukan penganiayaan, hobi meminum khamar lalu mabuk-mabukan. Bangsa arab saat itu memang menggambarkan kondisi bangsa yang sangat memprihatinkan, masa jahiliyah saat itu benar-benar merugikan banyak orang, termasuk kaum perempuan. Hanya kaum minoritaslah yang merasakan kebahagiaan.

Setelah kedatangan Rasulullah saw, segalanya berangsur-angsur menjadi lebih baik. Bahkan seorang Umar yang saat itu masih jahil dan membunuh putrinya, mendapatkan hidayah dan akhirnya diamanahi menjadi khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shidiq. Bangsa arab yang memang didominasi para saudagar kaya yang hobi berdagang menjadi cukup dikenal di masyarakat dunia, terutama di bagian timur. Rasulullah saw. juga melakukan ritual yang sama dengan mayoritas masyarakat arab lainnya, mendampingi pamannya ke negara-negara tetangga. Di umur 25 tahun, Rasulullah menikah dengan saudagar kayak bernama Khadijah. Beliau adalah seorang wanita hanif yang memiliki peran sangat luar biasa dalam mendukung dakwah Rasulullah saw. Saat Rasulullah mendapatkan wahyu pertama kali di gua hira dan merasa sangat menggigil, khadijah yang sudah menjadi istrinya memberikan kekuatan kepada waliyullah tersebut. Kemudian dalam langkah-langkah berikutnya yang tentu tidak mudah, Khadijah selalu berada disamping Rasulullah saw. untuk mendukung dan memberikan motivasi. Hingga pada akhirnya akhirnya beliau menemui ajalnya terlebih dahulu.

Peran perempuan dalam islam telah ditunjukkan saat Khadijah mendampingi Rasulullah sepanjang hidupnya. Keluh kesah yang dirasakan oleh Rasulullah tumpah di pundak Khadijah. Tak ada satupun permasalahan yang disembunyikan dari isteri tercintanya itu. Pengertian khadijah, kekuatan moral juga financial yang diberikannya merupakan salah satu faktor pendukung kesuksesan dakwah Rasulullah saw. di masa itu. Kepergiannya menghadap Allah swt. menyebabkan Rasulullah dirundung duka cukup lama. Tidak berhenti sampai disitu, peran perempuan yang cukup terdengar di zaman itu diteruskan oleh Aisyah ra., istri rasulullah yang paling belia. Lewat perannya lah banyak hadits shohih yang dapat kita amalkan sekarang. Beliau juga pernah menjadi pemimpin perang saat rasulullah telah wafat. Aisyah ra. yang tidak lain adalah putri dari sahabat Rasulullah, Abu Bakar Ash-Shidiq, merupakan seorang perempuan yang tangguh fisiknya dan keras pendiriannya namun tetap rendah hati serta tidak melupakan fitrahnya sebagai seorang perempuan.

Kemudian yang patut juga patut diajdikan tauladan adalah Fatimah ra. yang tak lain adalah putri Rasulullah saw. Ketika rasulullah masih ada, fatimah memlikii kedekatan yang luar biasa dengan Rasulullah. Tutur katanya yang lembut, sopan budi pekertinya, serta kebaikan akhlaknya tidak dapat diragukan lagi. Meski sering melihat ayahnya dihina dan disiksa, beliau tetap sabar dan tenang. Hingga akhirnya beliau menikah dengan Ali bin Abi Thalib yang, keponakan Rasulullah saw.. Beliau hanya dikaruniai usia hingga 28 tahun. Namun di masanya yang cukup singkat, beliau telah menunjukkan bahwa peran perempuan dalam pengembangan dakwah islam adalah hal yang sifatnya sama pentingnya dengan kaum pria. Hanya saja memang ranah yang dimilikinya berbeda, sesuai dengan fitrah masing-masing.

Masih banyak para pejuang muslimah di zaman rasulullah yang perannya tidak secara lengkap dicatat oleh sejarah, tapi dampaknya dapat dirasakan di tahun-tahun setelahnya. Penghargaan masyarakat arab terhadap perempuan semakin baik dan tidak ada lagi penganiyaan yang menyebabkan banyak korban. Sejarah perjuangan itu pula yang akhirnya membawa islam masuk ke indonesia.

Realita Perempuan Indonesia dan Perannya di Era Globalisasi

Waktu terus berputar dan zaman seolah cepat berganti. Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang yang berasal dari gujarat, mesir dan wilayah lainnya. Pada zaman dahulu, kondisi perempuan di Indonesia pun tidak berbeda jauh dengan si arab, hanya sedikit lebih manusiawi. Namun pengukungan terhadap hak-hak perempuan dirasakan sudah mulai mengganggu bagi sebagian kelompok.

R.A Kartini, namanya sudah pasti dikenal oleh banyak orang. Sejarah mencatat bahwa beliaulah yang telah menorehkan perubahan besar pada nasib kaum hawa. Mengenai kebebasan untuk berpendapat, kesamaan hak untuk mendapatkan pendidikan serta keleluasaan untuk mencari ilmu yang sesuai dengan kebutuhan kaum perempuan dengan fitrahnya nanti sebagai sorang ibu. Fakta menemukan bahwa populasi perempuan di dunia lebih banyak dari laki-laki. Perjuangan beliau lebih sering disebut dengan emasnipasi wanita. Beliau tidak berjuang sendiri pastinya, masih banyak perempuan-perempuan Indonesia lain yang namanya belum sempat tertulis dalam sejarah, yang turut memperjuangkan hak-hak perempuan dengan batas kewajaran.

Berbicara tentang emansipasi, maka dewasa ini pengertian tersebut sudah semakin disalah artikan. Para feminis banyak yang kebablasan dan sudah keluar dari acuan dasar Al-Quran mengenai perbedaan fitrah antara laki-laki dan perempuan. Hal ini kadang menjadi perbincangan yang cukup sensitif dikalangan para wanita. Banyak yang akhirnya mengaggap bahwa islam sangat merendahkan perempuan dengan diperbolehkannya poligami, disunahkannya seorang istri untuk melayani suami dengan sebaik-baiknya, diwajibkannya seorang ibu untuk berada di rumah untuk pengasuhan anaknya selama 2 tahun, dan lain sebagainya.

Kondisi inilah yang pada akhirnya membuat perempuan menggugat fitrahnya sebagai makhluk yang diciptakan dari tulang rusuk seorang laki-laki. Sejatinya, meskipun dengan fitrah yang kelihatannya lemah, masih banyak hal yang dapat dilakukan. Rasulullah dalam sebuah haditsya mengatakan bahwa Wanita adalah tiang Negara !”. mundur atau majunya suatu Negara terdapat pada kondisi para perempuan di dalamnya. Kemudian muncul juga sebuah ungkapan,”dibalik kelembutan seorang wanita ia bisa mengayunkan buaian di tangan kanan dan mengguncang dunia dengan tangan kirinya”. Sebuah fakta menunjukkan bahwa setelah kepergian Ibu Tien Soeharto, kepempinan Soeharto mulai goyang dan pada akhirnya benar-benar runtuh diagoncang massa. Itu hanyalah satu dari sekian banyak bukti bahwa seorang perempuan memiliki andil yang sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti kata orang bijak, “Dibalik keberhasilan setiap pembesar, ada seorang wanita!”. Artinya setiap keberhasilan yang diperoleh para tokoh dan pemimpin, selalu ada peran dan bantuan kaum hawa.

Islam telah menunjukkan sebuah porsi keadilan, antara laki-laki dan perempuan. Allah telah menegaskan bahwa yang membedakan kemuliaan seseorang di sisiNya adalah ia yang paling baik imannya, meskipun ia adalah seorang laki-lakia taupun perempuan. “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.(Al-Ahzab : 35)”

Peran perempuan di era global ini sangat beragam. Banyak hal yang dapat dilakuakan untuk turut berkontribusi dalam membangun bangsa, yang paling penting adalah tentang pendidikan. Adalah fakta bahwa sumber daya manusia Indonesia dapat dikatakan cukup rendah. Padahal salah satu

indikator negara yang maju adalah negara yang memliki sumber daya manusia yang berkualitas. Karena ditangan orang-orang berkualitas itulah seluruh potensi negara dapat dimanfaatkan dengan baik. Disinilah fungsi sorang perempuan, sbeagai pendidik generasi-generasi bangsa. Dari semenjak berada di dalam kandungan, fungsi pendiidkan itu sudah mulai berjalan. Seorang Ibu yang baik, yang mampu dan memiliki lmu yang cukup untuk memberikan pendidikan terhadap putra-putrinya, akan memberikan damapak yang besar terhadap negara. Ibu adalah madrasah pertama, yang pada tangannyalah terletak nasib masa depan bangsa. Mereka akan melahirkan putra-putri bangsa yang berkualitas, yang pada akhirnya dapat melakukan perubahan dan membuat langkah-langkah yang lebih positif. Itulah peran perempuan, mengguncang dunia.

karena aku adalah perempuan
260810

16 Ramadhan 1431 H