ramadhan yang beragam

Ramadhan kali ini cukup berbeda. Saya diberikan kesempaatan  untuk merasakan suasana bulan penuh berkah ini dalam keadaan seperti para pekerja kantoran yang datang sekitar pukul 09.00 pagi dan baru bisa keluar kantor pada sekita pukul 17.00. walaupun pada bulan puasa ini jam pulang lebih cepat sekitar 30 menit, tapi tetap saja menurut saya itu adalah waktu yang cukup mepet untuk mempersiapkan buka puasa, terutama untuk mereka para ibu yang pasti sudah ditunggu anaknya di rumah, juga mereka yang letak rumahnya agak jauh dari tempat bekerja sehingga terpaksa harus berbuka di perjalanan. Kadang saya membayangkan, apakah nanti beberapa tahun ke dapan hal itu akan terjadi pada saya?

Ramadhan memang bulan yang membawa berkah, terutama bagi mereka yang berprofesi sebagai pedagang. Yang sifatnya eceran, pendapatannya akan terlihat tumbuh cukup signifikan mengingat adanya fenomena para pekerja kantoran yang harus berbuka di perjalanan. artinya mereka tidak memiliki pilihan lain selain membeli makanan yang tersedia di sepanjang jalan untuk sekedar ngabatalan. Atau untuk mereka yang terlanjur masuk kendaraan umum dan belum mempersiapkan untuk buka, para pedagang asongan bertindak seperti pahlawan yang menawarkan air mineral dalam kemasan (AMDK) ataupun minuman manis dalam ukuran gelas. Harga yang ditawarkan memiliki margin yang cukup besar. untuk minuman cup tersebut, Rp1000 menjadi nilai yang wajar, padahal di hari biasa bisa diapatkan dengan jumlah uang setengahnya.

Berbagai macam jenis makanan tersedia di sepanjang jalan, hanya tinggal memilih mana yang sesuai dengan selera kita. Di lapangan Masjid Agung Alun-alun Bandung, tempat saya menunggu bis menuju rumah, pun dijadikan tempat untuk mengais rezeki bagi para pedagang tersebut. Lapangan yang dapat dikatakan cukup luas itu menjadi padat dipenuhi oleh segala jenis dagangan, tidak hanya makanan. Lapak pakaian takwa muslim atau yang lazim disebut baju koko berjejer bersampingan dengan ibu-ibu yang menjual jilbab. Kemudian didampingi juga dengan penjual bros dan aksesoris wanita disebelahnya. Di sudut lain ada seorang bapak yang menjual mainan anak-anak, tepat di depannya ada pemuda yang dengan lantang berteriak, “sandal, sandal buat lebaran limabelas ribu dapet dua.” Di ujung selanjutnya ada sebuah spanduk kecil dengan tulisan “Es Kelapa Muda”, dan disisi sebelah kanannya  ada tumpukan AMDK dengan berbagai macam merek. Yang memiliki power paling dahsyat dan mendominasi kawasan itu adalah tukang gorengan. Meskipun  competitirnya banyak dan terlihat seperti pasar persaingan sempurna karena dari satu gerobak ke gerobak lain hanya berjarak sekitar 3 meter, tetap saja pisang, tahu, bakwan, singkong, cireng, ubi yang mereka tawarkan terjual banyak dan kembali mendapatkan ongkos produksi untuk esok hari.

penjual es kelapa dan AMDK

bapak penjual cilok di sebelah ibu penjual asesoris

bapak penjual cilok di sebelah ibu penjual asesoris

Tidak jauh beda dengan pedagang retail besar-besaran yang memang beberapa diletakkan bersama dengan pusat perbelanjaan. Kebetulan –lagi- Saya magang di salah satu pusat pebelanjaan di Bandung yang cukup diminati oleh masyarakat. Pada hari biasa (non bulan ramadhan), pengunjung dapat diakatakan sangat ramai walaupun jika dibandingkan dengan pusat perbelanjaan dengan jenis serupa di daerah jakarta, jumlah tersebut dapat diakatakan standar. Meskipun pengunjung yang bertujuan ke tempat hiburan seperti bioskop berkurang bahkan untuk tempat karoeke tidak diperbolehkan untuk buka sleama bulan ramadhan, jumlah traffic di parkiran masih tetap penuh, justru semakin membludak menjelang buka. Bertepatan dengan keluarnya saya dari management office, para pengunjung semakin memadati area mall. Jika survey diadakan, saya bisa menebak bahwa mayoritas tujuan mereka adalah untuk ngabuburit (menghabsikan waktu menunggu buka, red).

tempat parkir

penuhnya basement di mal

Pemandangan lainnya dapat dibuktikan di foodcourt lantai atas mall. Sekitar satu hingga setengah jam sebelum bedug maghrib terdengar, pengunjung sudah bersiap-siap duduk di meja-meja yang tersedia kemudian segera memesan panganan untuk buka. Kebanyakan dari mereka langsung memilih makanan besar dan ber-ta’jil hanya dengan minuman ringan yang sudah satu paket dengan makanannya. Banyak juga dari mereka yang tidak kebagian tempat duduk terpaksa harus menunggu giliran sambil berputar-putar disekitar arena foodcourt dan mencari menu yang pas, menclok dari satu counter ke counter yang lain.

suasana mal di sore hari

suasana mal di sore hari

Mungkin fenomena inilah yang membuat ramadhan di Indonesia begitu terasa perbedannya dibandingkan dengan bulan-bulan biasa lainnya. Semua orang seperti mempersiapkan hal-hal yang sifatnya special yang memang diperuntukkan untuk bulan ramadhan, terutama saat lebaran. Harga pangan yang juga meningkat juga membuktikan berfungsinya hukum ekonomi,  permintaan pasar sudah melebihi stock barang yang tersedia. Media semakin gencar menginformasikan mengenai kenaikan harga sembako, bersamaan dengan pemberitaan tentang kejadian perampokan yang semakin gencar terjadi di beberapa kota belakangan ini. Bagaimana tidak, ketika kebutuhan semakin meningkat sedangkan modal yang dimiliki pas-pasan, apalagi yang harus dilakukan?

Ramadhan yang identik dengan berbuka-harus-dengan-makanan-spesial tentu saja mendorong masyarkat untuk mencari tambahan dana dalam memenuhi keinginannya tersebut. jika di bulan-bulan biasa makan 3 kali cukup dengan tahu tempe, di bulan ramadhan semua orang berlomba untuk bermewah-mewahan dalam menyiapkan panganan buka dan sahur. Alasannya adalah, “Ya karena Cuma dua kali, tidak masalah dong kalau makan kita sedikit lebih banyak.” Belum lagi keinginan untuk membeli baju lebaran yang kadang tidak rasional. Melihat tetangga memiliki baju baru lebih dari satu, rasanya tidak tahan untuk terkalahkan. Jadilah berlomba-lomba mencari kekayaann yang seolah dilakukan untuk memanjakan momen ramadhan. Terlihat dengan semakin ramainya pusat-pusaat pembelanjaan yang saya sebutkan sebelumnya, membuktikan bahwa kebutuhan masyarakat di bulan ini memang semakin meningkat. Entah itu adalah kebutuhan pokok, sekunder, ataupun hanya sekedar ikut-ikutan kebiasaan yang terjadi di masyarakat. Tidak masalah jika tujuan dibalik itu untuk mencari kebahagiaan. Namun sepertinya jika hal tersebut adalah tradisi nenek moyang dari zaman baheula, men-special-kan ramadhan dengan cara demikian  dan sifatnya turun menurun seperti menjadi sebuah kewajiban, perlu ditelisik kembali seberapa penting hal tersebut dalam memaknai momen ramadhan. Karena jika pada akhirnya hanya merugikan banyak orang, sebaiknya sedikti demi sedikit perlu dibangun kesadaran untuk men-special-kan ramadhan ala Rasulullah di Indonesia.

Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Apalagi jika berkah itu dirasakan oleh banyak orang di sekitar kita, bukan hanya untuk diri sendiri. Meskipun saya juga termasuk salah satu dari bagian masyarakat yang mewajibkan baju baru saat lebaran menjelang, kedepannya jika ternyata tak terlalu diperlukan, lebih baik mengalokasikan dana tersebut untuk hal-hal yang juga membahagiakan banyak orang serta memberikan berkah ramadhan yang lebih indah.

Yah, tak terasa Ramadhan sudah berada di penghujung bulan. Malam ini adalah malam ke 23 waktu-waktu terakhir yang akan memberi keberkahan yang luar biasa. Mari kita sibukkan diri untuk mendekatkan hati pada Illahi. Karena barangkali ramadhan taun depan tidak seindah ramadhan sekarang. Dan inilah ramadhan terakhir saat saya menjadi seorang mahasiswa. Semoga saya masih diberikan kesempatan untuk menemui ramadhan di tahun depan, entah dalam keadaan seperti apa. Tapi selalu saya yakini bahwa dalam suasana apapun, saat ramadhan tiba, ia selalu membawa berkah yang tidak terduga.

010910

menikmati ramadhan yang beragam.
semoga masih diberikan kesempatan di masa yang akan datang.

22  Ramadhan 1431 H

sumber gambar: dokumentasi pribadi