2 renungan menuju angka berkepala 2

(Part 1)

Hari ini, 27 September 2010 bertepatan dengan kelas pajak yang saya ambil pada pukul 15.40 di room 3 kampus universitas Bakrie. Temperature AC yang yang dingin membuat saya cukup menggigil di dalam kelas, ditambah lagi dengan jumlah rekan mahasiswa yang dapat di hitung dengan jari. Ternyata di luar hujan, itu jugalah yang menyebabkan banyak teman-teman yang absen hari ini. Kebetulan saya sudah berada di kampus ketika hari masih siang, beruntung tidak terkena hujan. Alhamdulillah.

Kelas pajak ini biasanya akan membahas mengenai undang-undang perpajakan yang ada di Indonesia, beserta jenis pajak yang wajib dibayar oleh warga Indonesia yang sudah memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak, red). Namun hari ini sedikit berbeda. Dosen kami, Bapak Tugiman menghabiskan hampir ¾ waktu belajar kami di kelas untuk membahas sesuatu yang tidak memiliki hubungan langsung dengan mata kuliah pajak. Tetapi pembicaraan tersebut justru memberikan makna yang lebih dalam bagi saya. Pak dosen seolah tau bahwa keesokan hari saya akan menginjak usia dua puluh tahun, yang artinya perlu memiliki tingkat kedewasaan dan pemahaman hidup yang lebih mendalam di banding sebelumnya.

Hal pertama yang dilakukan oleh beliau adalah menggambar sebuah kurva, seperti di bawah ini:

kurva ala Pak Tugiman

Lalu beliau bertanya, apa perbedaan antara urgent dan penting? Salah satu dari kami menjawab, “urgent itu sifatnya mendesak dan harus segera dilaksanakan”.  Akhirnya kami mencapai pada kesepakatan bersama bahwa urutan angka 1,2,3 dan 4 memang tepat diletakkan di dalam kurva dengan posisi tersebut. Lalu kami beralih pada kebiasaan dari mayoritas manusia terhadap sikapnya yang digambarkan dalam kurva tersebut.

Hakikatnya banyak dari kami (manusia) mengetahui bahwa sesutau itu penting dan urgent dilaksanakan. Namun dalam prakteknya, kurva nomor 4 lah yang lebih sering diprioritaskan. Hal-hal yang sifatnya tidak penting dan tidak urgent, terkadang malah mendominasi kegiatan sehari-hari. Dan ternyata saya juga demikian. Waktu yang digunakan untuk hal-hal yang sifatnya refreshing, kadang mendominasi terhadap waktu yang sejatinya dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat bagi diri sendiri juga orang lain.


Konsep Waktu

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. QS. Al-Ashr (1-3)”

Dalam surat yang sangat pendek ini, Allah bersumpah terhadap waktu. Hal ini menunjukkan bahwa waktu adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita. Ia adalah sesuatu yang tak akan pernah bisa diulang meski kita memohon hingga merajuk bahkan menyogok dengan uangpun tak akanada yang mampu memutarnya kembali. Itulah alasan terbesar mengapa Allah membiarkan kemaitan menjadi rahasiaNya.

Setiap manusia memiliki deadline. Dalam konsep manusia, deadline adalah sebuah pekerjaan yang harus dikerjakan dengan segera karena memiliki batas waktu tertentu.  Jika pekerjaan tersebut tidak selesai hingga batas deadline, akan ada sanksi yang harus diterima si pelaku karena tidak dapat mengerjakan sesuai dengan kesepakatan di awal. Tidak jauh berbeda dengan konsep deadline yang ditawarkanNya kepada kita sebagai makhlukNya. Deadline dapat didefinisikan sebagai garis mati. Sebuah kepastian yang sudah tidak dapat ditawar lagi karena semua orang akan menemui hal tersebut. hanya waktu dan bentuknya saja yang menjadi berbeda. Itulah mengapa waktu menjadi sangat penting untuk diperhatikan dalam menghadapi deadline.

Kemudian dalam konsep ekonomi, waktu adalah modal. Modal yang diberikan Allah kepada manusia untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya sehingga mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya.

“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dialah tergolong orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang celaka” (Al-Hadits)

Secara teori bisnis, yang paling aman dalam mengolah modal adalah ketika mencapai titik BEP (Break Even Point), dimana modal dan pendapatan pada akhirnya dipisahkan oleh tanda sama dengan yang berarti tidak rugi dan tidak untung alias impas. Namun ternyata konsep BEP ini adalah sebuah kerugian jika modal yang dimiliki adalah waktu. Berdasarkan hadits diatas, jika sesorang melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan di hari kemarin, maka kesempatan untuk menjadi lebih baik setiap harinya menajdi tidak didapatkan. Namun Jika seseorang dapat memanfaatkan modalnya dengan baik (dalam hal ini adalah waktu), yang berarti hari sekarang lebih baik dari hari kemarin, maka ia akan mendapatkan kebruntungan yang luar biasa. Dan jika ternyata modal tersebut tidak diolah dengan maksimal, maka seseorang akan dihadapkan pada kebangkrutan atau dalam konsep ini adalah kesesalan yang mendalam karena waktu yang telah dianugerahkan tidak dapat digunakan dengan sebaik-baiknya, malah mendapatkan kerugian yang luar biasa.

Pada akhirnya kitalah yang akan memilih, kemanakah modal yang telah diberikan itu akan diinvestasikan? Untuk menjadi seseorang yang beruntung, merugi, ataukah celaka?

Karena janji Allah, orang-orang yang beruntung adalah yang menjadi pengecualian bagi kebanyakan dari mereka.

 

Selesai ditulis: 011010
(masih ada yang tersisa untuk direnungi..)

sumber gambar: dokumen pribadi