Avi dan Kiray

2 september lalu, usianya genap 7 tahun. Ia duduk di kelas 2 SD sekarang. Kadang aku merasa bahwa detiki ini berlalu begitu cepat. Yang ada dalam benakku adalah saat ia menangis manja meminta dipangku. Kini yang ada dihadapanku adalah seorang bocah yang (cukup) tampan, cerdas, cerewet dan boleh dibilang cukup dewasa pada usianya sebenarnya. Bagaimana tidak aku menyebutnya dewasa, beberapa hari kepulanganku ke rumah diwarnai dengan cerita mengenai teman sekelasnya yang katanya cukup menarik perhatiannya (sebagai laki-laki).

Namanya Kiray. Aku tak tau lengkapnya. Ia dideskripsikan sebagai seorang anak perempuan yang lucu, cantik dan baik hati. Punya banyak teman dan sangat menyenangkan, juga disayangi oleh para guru disekolahnya.

“Kiray itu baik, suka menolong dan tidak sombong.” Seingatku itu adalah sifat yang dibanggakannya padaku. Sambil malu-malu, ia juga mengatakan bahwa sang pujaannya itu adalah seorang anak yang manis dan murah senyum.

Aku semakin tertarik. Entah alasan apa yang membuatku mengajukan sebuah pertanyaan, “Kok bisa Avi suka sama Kiray? Emang Kiray baik sama Avi juga?”

Dia menjawab sambil bermanja-manja di pangkuanku, “Iya, sama Avi baik banget. Orangnya lembut, nggak suka marah-marah. Pokoknya baik deh…”

Aku hanya tersenyum mendengar ceritanya. Ingin berkomentar tapi sepertinya masih belum tepat waktunya. Akhirnya kutelan kembali kalimatku dan kubiarkan Ia bercerita mengenai teman sepermainannya itu. Percakapan terhenti karena Ibu menyuruh kami untuk bersegera makan siang. Dan akhirnya aku harus segera kemabli ke rutinitasku sebagai mahasiswa lalu cerita itu terpotong begitu saja tanpa mencapai sebuah kesimpulan.

Namun ternyata kisahnya memang belum selesai sampai disitu. Kepulanganku selanjutnya masih dipenuhi rasa penasaran tentang seorang perempuan yang telah mencuri hati adik bungsuku itu. Aku berharap ada cerita yang semakin seru untuk dijadikan bahan ledekan. Tetapi kenyataan berkata lain, jagoanku itu malah sedang patah hati.

“Gimana kabarnya Kiray? Certain lagi dong sama Teteh.” Aku mulai mengajukan pertanyaan.

“Avi udah gak suka lagi sama Kiray.” Meski tidak benar-benar seperti orang yang putus cinta, aku dapat menangkap wajahnya yang agak sedih tapi tetap dihiasi senyum malu-malu.

“Loh kenapa emang? Jadi nggak baik lagi sekarang Kiray nya?” Masih dengan rasa penasaranku.

“Sekarang Avi tau, Kiray nggak suka sama Avi. Dia sukanya sama Alif.” Dua kakak perempuannya yang kebetulan satu sekolah ikut menyoraki. Ibu mulai tertarik dengan percakapan kami, lalu ikut mengajukan pertanyaan.
“Kok Avi bisa tau kalau Kiray nggak suka sama Avi? Emang Avi nanya?”

“Ngga, Avi ngga sengaja denger obrolan Kiray ama temennya kalau dia sukanya sama Alif. Yaudah deh Avi jadi ngga suka lagi ama Kiray.” Wajahnya menunjukkan ekspresi sedikiti kecewa, tapi masih tertawa. Kedua kakak perempuannya yang tidak lain adalah adik-adikku tertawa mendengar jawaban dari si bungsu. Mereka sepakat meledek, “Cie, Avi patah hati….”

Aku semakin penasaran. Bagaimana bisa anak sekecil itu merasakan gemuruh perasaan seperti itu yang akhirnya membawa ia pada sebuah kepasarahan.

2 adik perempuanku lalu bergosip, “Tapi Alif ngga suka ama Kiray, dia sukanya ama (lupa namanya, sebut saja bunga). Terus Bunga suka juga sama Alif. Jadi sebenernya Kiray juga patah hati.”

Lalu aku memanas-manasi. “Kan berarti Kiray udah tau kalo Alif sukanya sama orang lain. avi berarti punya kesempatan bikin Kiray suka sama Avi.”

“Ih, teteh… nggak ah, Avi udah males jadinya tau. Biarin ajalah. Kan kita masih temenan.” Avi menjawab masih dengan nada manjanya.

Ibu mulai menengahi, akhirnya percakapan itu ditutup dengan sebuah pernyataan, “Seru ya kalau ngomongin masalah kayak gini. Pasti rame terus.” Lalu percakapan kembali mengalor ngidul tanpa arah yang jelas.

Setelahnya aku hanya termenung. Banyak sekali hal yang cukup membingungkan. Anak seusia itu ternyata sudah memahami gejolak fitrah yang dianugerahkanNya, sebagai bumbu kehidupan. Meski tetap logikaku tidak bisa menerima seutuhnya bahwa usia 7 tahun pada zaman sekarang ini sama dengan usia 14 tahun di zamanku dulu. Meski hanya berselisih 13 tahun, rasanya zaman begitu cepat berubah.

Namun satu hal yang membuatku salut padanya adalah keikhlasan ia menerima kenyataan, bahwa segala hal yang terjadi tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Ketika ada hal yang tak terkabulkan, yang dilakukannya hanyalah berpasrah. Meski terlihat sepele, tapi bagiku kisahnya memberikan harapan yang baru. Apapun yang terjadi pada perubahan zaman, kekuatan ruhani dan keseimbangannya dengan akal masih tetap menjadi tumpuan utama untuk bertindak dan bersikap.

Semoga ia menjadi satu dari mereka yang mampu memberikan cahaya bagi dunia, dengan keseimbangan akal dan nurani. Karena ternyata hanya itulah yang dapat menjadi bekal hingga akhir zaman…

 

sumber gambar: dokumentasi pribadi