Ia yang Kudamba

Menjadi pemimpin itu harus seperti surya,
memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan.
Menumbuhkan daya hidup rakyatnya untuk membangun negerinya.

Seorang pemimpin juga harus menjadi candra.
Memancarkan sinar di tengah gelap malam.
Dia harus member semangat kepada rakyatnya di tengah suka ataupun duka

Orang-orang merindukan pemimpin berjiwa kartika,
memancarkan sinar kemilauan,
berada di tempat tinggi hingga dapat dijadikan pedoman arah.
Dia harus menjadi teladan perbuatan yang baik.

Negeri ini kehilangan pemimpin berhati angkasa, luas tak terbatas.
Mampu menampung apa saja yang datang padanya.
Punya ketulusan batin dan kemampuan mengendalikan diri, menampung pendapat rakyatnya.

Sejak lama rakyat mendambakan pemimpin berjiwa maruta.
Ada di mana-mana tanpa membedaklan tempat.
Selalu mengisi semua ruang yang kosong.
Dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya.

Pemimpin juga harus bersemangat samudra, betapa pun luasnya,
permukaannya selalu datar dan bersifat sejuk menyegarkan.
Bersifat kasih sayang terhadap rakyatnya.

Seorang pemimpin sejati juga harus memiliki sifat dahana.
Punya kemampuan membakar semua yang bersentuhan dengannya.
Berwibawa dan berani menegakkan kebenaran secara tegas tanpa pandang bulu.

Pemimpin sejati juga harus berhati nurani bhumi.
Kuat dan murah hati.
Selalu memberi hasil kepada yang merawatnya.
Bermurah dan tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya.
(Tasaro GK-Samita)

Masih bolehkah kudamba pemimpin seperti ini?
Yang menangis tergugu kala amanah dibebankan dipundaknya
Yang rela berkorban demi kepentingan mereka yang dipimpinnya

Masih bolehkah kudamba pemimpin seperti ini?
Meski mustahil yang terasa
Yakinku ada,
Ia yang masih belum binasa tergilas masa.

Siapakah Ia?
Biarlah waktu yang menjawabnya.

140111
Untuk tanahku, yang juga mendambakannya.