belajar dari lilin

“Lebih baik menyalakan lilin, daripada mengeluh tentang gelap”
-chinese wisdom-

berawal dari obrolan santai bersama dengan kawan sepermainan, tentang berbuat baik. pada siapapun, dalam keadaan apapun. cukup memberikan arti yang dalam, meski mungkin hanya sekedar gurauan yang tak berujung.

diteruskan dengan kuliah hari terakhir sebelum ujian, mata kuliah entrepreneur yang lebih condong pada belajar agama & filsafat. masih tentang berbuat baik.

ya, sebagai makhluk sosial, sekaligus sebagai makhluk yang diberi akal, kita memang memiliki banyak pilihan untuk melakukan ataupun tidak melakukan sesuatu.
berbeda dengan makhluk ciptaanNya yang lain, yang memang sudah memiliki takdirnya masing-masing, dan mereka tidak dihadapkan pada sebuah pilihan. tumbuhan, tumbuh di tempat, berkembang, dan akhirnya mati. begitu juga hewan, dengan sedikit bonus kemampuan untuk bergerak mempertahankan hidupnya, sampai akhirnya kematian menjemput.

tapi manusia, tentu banyak hal yang bisa dilakukan. tidak hanya berdiam diri menatap kehidupan yang tidak pernah diketahui kapan berakhirnya. akal yang dikaruniakan, merupakan sebuah petunjuk. untuk menjadi makhluk yang lebih berguna, dengan cara berbuat baik.

begitulah sang dosen menerangkan, sambil mencoret-coret spidolnya di papan, dengan bentuk yang tak beraturan. mereka yang hanya melihat dengan sekilas, tentu tak akan paham dengan maksud coretan penuh arti itu. lalu ia meneruskan, bahwa hakikat hidup di dunia sebagai manusia adalah berbuat baik dan menebarkan kebaikan itu agar bermanfaat bagi banyak orang disekelilngnya, bahkan bagi makhlukNya yang tidak hidup alias benda mati. karena mereka akan hidup di suatu masa, dan meminta pertangunggjawaban terhadap apa yang dilakukan oleh manusia terhadap mereka sepanjang kehidupannya di dunia.

seperti dalam sebuah haditsnya,
diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”

ya, kembali ditekankan bahwa mereka yang paling baik adalah mereka yang paling bermanfaat. bukan mereka yang paling pintar, paling kaya, paling kuat, paling jago, dan paling segalanya di muka bumi ini. sesederhana itu, menjadi bermanfaat.

maka menjadi bermanfaat dan melakukan kebaikan adalah sebuah klausul yang sling berkaitan. untuk berbuat baik dan menjadi bermanfaat, seseorang tidak harus menjadi kaya terlebih dahulu. hanya cukup menjadi dirinya, apa adanya, dan melakukan sesuatu, dari hal yang paling kecil, yang mungkin tidak akan diperhatikan oleh orang lain. ibarat lilin, ia menyalakan apinya, meskipun sangat kecil, tapi ia telah melakukan sesuatu. paling tidak, ia tidak merutuki kegelapan, tapi ia berjuang untuk memberikan cahaya agar tidak terus-terusan menjadi gelap. ia bermanfaat bagi sekelilingnya, meskipun tak akan ada yang tahu bahwa cahaya itu adalah miliknya, karena ia terlalu kecil untuk dilihat.

karena memang, untuk berbuat baik, tidak perlu mengharapkan apapun dari orang lain bukan? bukan pujian ataupun hukuman. tapi karena memang kita ingin melakukannya. memilih untuk melakukannya.

alangkah indahnya jalan ini, jika setiap kaki yang dilangkahkan bukan karena mengharap pujian ataupun takut pada hukuman. tapi memang kita yang memilih untuk melangkahkannya. sehingga, setelah keputusan itu dilakukan dan memberikan akibat yang tidak disukai, tidak ada satupun yang berhak disalahkan selain diri kita sendiri, karena ialah satu-satunya yang harus bertanggung jawab atas pilihan itu. bahkan ketika kebermanfaatan yang justru didapatkan, tidak ada yang lebih bahagia melainkan diri kita sendiri karena berhasil menebar kebaikan dengan pilihan kita sendiri. tanpa diminta oleh orang lain, tanpa alasan untuk menjadi dihina ataupun dipuji. tapi karena kita memang memilih untuk melakukannya.

ya, semudah itu ternyata menjadi manusia yang baik. hanya cukup dengan bermanfaat bagi manusia yang lainnya. tapi sudah mampukah kita?

jadikanlah tiga hal sikapmu terhadap orang-orang mukmin:
jika tidak bisa memberi manfaat, maka jangan membahayakannya;
jika tidak bisa membahagiakan, maka jangan membuatnya sedih
jika tidak bisa memuji, maka jangan mencacinya
(yahya ibn muad)

tidak harus menunggu menjadi api untuk memberikan cahaya pada banyak orang,
cukup sebagai lilin, meski kecil, ia ada dan terasa.

160611

dokumentasi: internet