ramadhan dan jam tangan

Tak terasa, Ramadhan sudah hampir menemui limitnya. H-2 menjelang lebaran. Bahkan sayapun diingatkan oleh sebuah iklan minuman pelepas dahaga yang menggunakan ikon anak kecil. Salah satu script dialognya membuat saya tersadar bahwa pada hari-hari setelah ini, saya tidak akan mendapati suasana yang seperti ini lagi.

Script bocah itu seperti ini (kalau tidak salah)
“coba setiap hari itu bulan puasa, pasti kita makan enak terus”

Awalnya saya berpikir, agak lucu juga mendapati scene pengambilan syuting iklannya di rumah yang cukup megah, tapi bocah itu (katanya) ga pernah makan enak selain di bulan ramadhan. Kasihan.

Tapi ternyata bukan itu esensinya. Memang selalu ada yang berbeda di bulan ini. Saya pun tidak dapat mendeskripsikan dengan jelas apa sajakah perbedaan itu. Yang pasti bulan ini selalu terasa istimewa dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.

Pekerja kantoran diberikan waktu yang lebih longgar untuk bekerja. Mereka diberikan keleluasaan waktu untuk menghayati waktu sehabis sahur (tidur lagi, red) dengan melambatkan jam masuk sekitar satu jam. Dan di sore hari, jam kepulangan dipercepat untuk mempersiapkan waktu berbuka yang biasa juga dimanfaatkan untuk ngabuburit. Pasti ini adalah anugrah yang sangat luar biasa bagi mereka yang memiliki rutinitas eight to five tiap harinya.

Bagi mahasiswa seperti saya, kesempatan ini menjadi peluang untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dengan teman-teman sepermainan. Misalnya dengan mengadakan buka puasa bersama. Terbukti, banyak hotel-hotel yang menyediakan paket reuni di bulan ramadhan ini.

Sedikit dari fakta yang tersebar di lapangan, dapat dibuktikan bahwa ramadhan memang bulan penuh berkah. Dan ramadhan kali ini pun memberikan pengalaman yang berharga bagi saya. Terkait dengan mempergunakan kesempatan yang disediakan supaya tidak menyesal pada akhirnya.

(sedikit curhat)

Tepat dua tahun yang lalu, di bulan Ramadhan, saya membeli sebuah jam tangan yang memang sudah saya inginkan sejak beberapa bulan sebelumnya, ketika tidak sengaja berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan bilangan kota Jakarta. Hari itu rasanya bahagia sekali, berbulan-bulan mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk mendapatkan barang yang sudah diidam-idamkan. Harganya tidak begitu mahal, standar untuk kantong mahasiswa yang pas-pasan. Pas butuh, pas ada. Modelnya biasa saja, namun cukup unik dalam persepsi saya,  pas dengan ukuran lengan saya. Tentunya pas juga dengan selera saya. Setelah mendapatkannya, rasanya bahagia sekali. Perjuangan panjang menunggu akhirnya tercapai juga.

Jam itu berangsur-angsur menjadi bagian dari diri saya yang tidak terpisahkan. Hampir tidak pernah lepas dari lengan saya, paling hanya berpindah dari kiri ke kanan, ataupun sebaliknya. Namun sunatullah pastilah ada. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Termasuk ia yang saya perjuangkan dengan sangat. 2 tahun tepat, mungkin meleset beberapa hari, usia jam tersebut sudah ditentukan olehNya. Ajal sudah menjemput. rasanya sungguh menyesal mendapati dalam 2 tahun yang disediakan, tidak dapat merawatnya dengan baik.

 Dua nikmat yang sering disia-siakan oleh banyak orang: kesehatan dan kesempatan. (Diriwayatkan oleh Bukhari melalui Ibnu Abbas)

Bahkan saat ia sedang sakitpun, saya tidak menyadari bahwa fisiknya perlu diperiksa oleh sang ahli. Mungkin ia bisa bereinkarnasi, paling tidak dengan menghantarkannya pada tukang servis, ia bisa hidup kembali. tapi tentu tidak sama. ada yang beda. bukan ia yang dulu. kesempatannya, juga perasaannya tak lagi sama.

Setiap umat memiliki batas waktu berakhirnya usia (QS. Yunus:49)

Dan jam tersebut merupakan salah satu ciptaanNya yang memang memiliki batas usia.

(Kembali ke topik)

Jam tangan itu ibarat bulan ramadhan (bagi saya), 11 bulan sebelumnya menabung untuk mempersiapkan diri menyabut bulan nan suci ini. Banyak hal yang ditunggu dan dinanti. Tak jarang saya merasa bahwa hari-hari di bulan ramadhan lebih menyenangkan dibanding di bulan lainnya. Entah disebabkan oleh lingkungan yang menciptakannya demikian atau memang karena ia adalah bulan yang penuh berkah. Mungkin sebenarnya kedua hal tersebut saling berkorelasi.

Namun pada akhirnya waktu yang hanya 30 hari (bahkan kurang) tersebut akan segera habis. Rasanya banyak sekali yang disesali. banyak waktu yang habis percuma, target-target tak tertulis yang semakin terabaikan juga harapan-harapan yang tinggal angan.

Wahai orang-orang yan beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. (QS. Al-Hasyr:18)

Hanya dengan kemurahan hatiNya lah, saya masih boleh berharap bertemu dengan ramadhan tahun depan. tapi rasanya tentu tak sama. Banyak hal yang terlewatkan, yang tidak dapat diulang pada tahun yang akan datang. Tentu jikapun masih diizinkan bertemu lagi dengannya, tentu bukan dengan kondisi yang sama persis seperti saat ini.

Ya, mungkin inilah yang menginspirasi orang bijak dalam membuat pepatah “penyesalan selalu datang belakangan” . Hari yang telah lalu mungkin memang sebuah penyesalan. Tetapi ada banyak hal yang juga dapat disyukuri, yang mungkin tidak kasat mata tapi tertanam di sanubari. Tentu juga,  48 jam menuju lebaran masih dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki banyak hal. Karena tidak pernah ada kata terlambat untuk mengambil hikmah yang tersembunyi dibalik setiap kejadian.

Pada akhirnya, saya hanya bisa menyerahkan diri dan menumpukan harapan padaNya. Meminta untuk diizinkan kembali bertemu dengan bulan nan indah ini, dan menggunakan waktu yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Begitu juga dengan jam tangan yang sudah almarhum tersebut. Tidak ada yang abadi. Maka hanya perlu berdoa untuk mendapatkan pengganti yang lebih baik darinya. Karena ternyata,  kesempatan selalu tersedia, bagi mereka yang menemukan hikmahnya lebih cepat.

Dia (Allah) menjadikan malan dan siang silih berganti untuk memberi waktu (kesempatan) kepada orang-orang yang ingin mengingat (mengambil pelajaran) atau orang yang ingin bersyukur (QS Al-Furqan : 62).

(almarhum jam tangan, jenazahnya masih ada, tapi sudah tidak dapat digunakan sesuai fungsinya)

dokumentasi: pribadi