99 Cahaya: sebuah perjalanan (HR)

Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra tempat banyak ciptaan-ciptaanNya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalannmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.
(Ali bin Abi Thalib ra.)

Those who don’t learn from history are doomed to repeat it. (George Santayana)

Hanum dan Rangga, sepasang suami istri yang diberikan kesempatan olehNya untuk menikmati perjalanan tapak jejak Islam di Eropa. Adanya pertemuan-pertemuan tak terduga dengan mereka yang seolah datang sebagai ‘petunjuk jalan’ dalam menapaki sejarah masa lalu. Tentang cinta, pengorbanan, dan kejayaan.

Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Ia universal, cocok untuk suku bangsa apapun, keturunan apapun, bahkan dari kasta manapun. Tidak ada yang membedakan manusia kecuali imannya dan kebaikan yang mereka berikan kepada orang-orang disekitarnya.

Pertemuannya dengan Fatma, memberikan keyakinan pada Hanum bahwa mensyiarkan islam itu tidak harus bahkan tidak boleh dengan kekerasan. Fatma yang dengan bijaknya malah mentraktir dua orang turis asing yang dengan jelas menghina negaranya, Turki, lengkap dengan segala atribut kemuslimannya. Ia malah meyakinkan bahwa sebagai minoritas, kita harus menjadi agen muslim yang  baik, yang menciptakan perdamaian dan ketentraman, sebagai nilai-nilai yang sejatinya dimiliki oleh Islam.

Marion yang mereka temui di Paris, merupakan seorang mualaf yang menemukan hidayahnya di kota mode ini. Ia banyak memberikan pengetahuan yang mungkin luput dari pandangan mata biasa. Banyak hal yang ternyata dapat dinikmati dengan mata hati, sebuah kenyataan yang jauh dari pencitraan yang dibangun selama ini. Perjalanan yang singkat memberikan makna yang luar biasa bagi mereka. Fakta-fakta yang selama ini diragukan menjadi semakin meyakinkan.

Sedangkan Stefan, kolega  Rangga di kampusnya yang tidak percaya Tuhan, akhirnya dapat merasakan ‘nikmatnya’ menahan diri dari lapar dan haus selama 15 jam. Meskipun dalam 2 jam terkahir, puasanya harus batal dengan air minum karena dehidrasi dan tidak kuat lagi. Dengan susah payah, Rangga mencoba menjelaskan dengan pendekatan logika kepada Stefan tentang makna puasa Ramadhan. Stefan memang sangat sulit sekali diberikan pemahaman mengenai sesuatu hal yang sifatnya batiniah dan tidak akan bisa diungkapkan secara logika. Namun pada akhirnya, setelah 6 bulan kelulusan, Rangga mendapatkan sebuah email yang berasal dari Stefan:

“Rangga, my friend. I think I now believe in God. That’s it. But not interested into a religion. Maybe one day..”
 

Itulah sepenggal kisah pertemuan mereka dengan manusia-manusia yang dikirimkanNya sebagai penunjuk hikmah dan sejarah yang mungkin sudah terlupakan. Sebuah fakta juga menunjukkan bahwa kejayaan Islam di Eropa merupakan sebuah masa yang yang memberikan efek positif bagi masyarakat eropa. Perkembangan Islam juga berjalan seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, bukan malah menjadi bertentangan seperti yang terjadi dalam ajaran gereja di masa itu, banyak para ilmuwan yang dipancung karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama. Berkembangnya ilmu pengetahuan di Eropa diprakarsai oleh mereka yang taat beribadah namun memiliki jiwa haus akan ilmu yang juga tidak kalah kuatnya. Maka lahirlah ilmuwan-ilmuawan muslim yang memilki kontribusi yang besar dalam perkembangan sains hingga masa kini. Seperti Ibnu Rushd atau yang biasa dikenal di Eropa dengan nama Averroes, seorang pemikir dan filusuf Islam dari Andalusia.

Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada (QS Al-Hajj [22] 46).

Buku ini mengajak kita  untuk meyakini bahwa sejarah menuliskan Islam pernah Berjaya dan memberikan kebahagiaan bagi masyarakat sekitarnya meski tidak semua dari mereka adalah seorang muslim. Penggalan kisah didalamnya juga menunjukkan bahwa Islam hadir sebagai pemberi kedamaian, ketenangan, kasih sayang dan persaudaraan, bukan sebaliknya. Ajakan ini diperjelas di akhir cerita, bahwa sang penulis juga meyakini hal yang sama.

Aku percaya, suatu hari nanti cahaya islam akan kembali bersinar di muka bumi ini.

Bagaikan oase di tengah keringnya rasa cinta dan kasih sayang, kisah-kisah tersebut hadir untuk menunjukkan bahwa banyak sekali jalan yang dapat ditempuh untuk menciptakan kedamaian. Memperjuangkan agama tidak selalu harus dengan mengorbankan diri atau bahkan berperang. Menurut Sergio, seorang kakek pensiunan tour guide mezquita di Cordoba, terkadang manusia mengkambinghitamkan agamanya untuk memuaskan nafsunya semata, mempertontonkan kekuasaan, dan memenangkan egonya. Perbedaan diciptakan bukan untuk saling menuduh dan merasa benar, tetapi ia diciptakan untuk mengukir keanekaragaman yang dapat saling melengkapi. Lagi-lagi sebuah bukti menunjukkan bahwa pada masa Sultan Granada Boadbil, semua orang dalam keyakinan yang berbeda-beda (Islam, Yahudi, Kristen) mampu hidup berdampingan secara damai dan penuh toleransi. Meski pada akhirnya dinasti ini runtuh dibawah kekuasaan Isabella dan Ferdinand.

Esensi sejarah bukanlah hanya siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu: siapa yang cepat belajar dari kemenangan dan kekalahan.

Buku ini juga menceritakan kota-kota lainnya yang menjadi pengukir sejarah kejayaan Islam di masa lalu. Istanbul, Andalusia, Yerussalem, serta tempat-tempat lainnya yang menyimpan catatan sejarah secara terbuka maupun tertutup seperti yang tertuang di dalam museum-museum. Terakhir, buku ini menceritakan perjalanan Hanum mengunjungi Tanah Suci yang memberikan makna sangat dalam, seolah-olah menutup perjalanan napak tilas jejak kejayaan Islam. Sebuah pengembaraan akhir menuju awal. Adventurum ad Initio.

Pergilah, jelajahilah dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia-rahasia hidup; niscaya jalan apapun yang kau pilih akan mengantarkanmu menuju titik awal. Sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kautemukan di titik nol perjalananmu. Perjalanan panjangmu tidak akan mengantarkanmu ke ujung jalan, justru akan membawamu kembali ke titik permulaan. Pergilah untuk kembali, mengembaralah untuk menemukan jalan pulang. Sejauh apapun kakimu melangkah, engkau pasti akan kembali ke titik awal.
(Paulo Coelho dalam The Alchemist.)

“Maka Apakah mereka tiada Mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi [bangunan, alat perlengkapan, benteng-benteng dan istana-istana], Maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.” (QS Al-Mu’min [40] 82).

Karena sejarah, adalah sebuah arah menuju masa depan yang lebih cerah.
Merangkai makna dalam 99 cahaya di langit eropa – perjalanan menapak jejak islam di eropa.
Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Gramedia Pustaka.

dokumentasi: internet