anak panah: melesat menemui 21

mendapati angka 1 setelah angka 2 dalam bilangan usia adalah hal yang (mungkin) membuat semua orang (yang telah melewatinya) merasa menjadi ‘sudah tidak muda lagi’. ada sebuah beban baru yang menggiring pada sebuah kedewasaan yang perlu dimiliki di usia ini, seiring dengan jatah usia di dunia yang semakin berkurang,

berangkat dari sebuah obrolan ringan bersama orang tua, tentang fase usia manusia dalam masa pendidikan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau membagi fasenya menjadi 3 bagian,

”Biarlah anak-anak kalian bermain dalam 7 tahun pertama, kemudian didik dan bimbinglah mereka dalam 7 tahun kedua, sedangkan 7 tahun ketiga jadikanlah mereka senantiasa bersama kalian dalam musyawarah dan menjalankan tugas.”

Pernyataan ini lalu diadopsi oleh Bobbi De Porter, penulis Quantum Learning yang juga President Learning Forum Supercamp Oceanside California USA, yang menyatakan bahwa pendidikan seorang manusia harus didesain dengan rumus ajaib 7 x 3, yaitu:

  • 7 tahun pertama, merupakan masa perkembangan otak dan penyerapan informasi. maka perlakukanlah seorang anak layaknya serorang raja, bebas bermain dan tidak boleh ada hukuman.
  • 7 tahun kedua, masa penanaman konsekuensi dan kedisiplinan. kenalkan anak mengenai baik dan buruk, serta hukumlah anak apabila melakukan hal-hal yang buruk.
  • 7 tahun ketiga, adalah masa kerja bagi anak, memulai untuk bertanggung jawab terhadap tugas dan perannya. berikan anak alternatif-alternatif dan biarkan mereka memilih, dan perlakukan ia sebagai teman atau sahabat.

Lalu apa yang terjadi setelah usia anak tersebut mencapai angka 21 sebagai hasil perkalian antara 3 dan 7? masihkah ia menjadi bagian dari fase ketiga? Jika tidak, peran apakah yang diembannya di fase setelah itu? Mungkin jawaban dari pertanyaan ini bersifat relatif, sesuai dengan kondisi dan kepentingan yang diinginkan oleh si penjawab.

Kemudian mereka menjawab:
“usia tersebut adalah saatnya mengambil penuh seluruh peran dalam kehidupan, menyerahakan seutuhnya tanggung jawab ke dalam diri, serta mulai menentukan siapa yang akan turut berperan dalam membangun peradaban.” 

begitu berat mendengar kalimat yang terdengar begitu mudah dilontarkan itu. rasanya ingin kembali ke fase 7 tahun pertama, dimana saya bisa melakukan banyak hal sesuai dengan keinginan tanpa perlu memikirkan apa yang akan terjadi pada orang lain. atau di fase ke dua dengan membangun komitmen-komitmen kecil, setidaknya jika saya langgar efeknya tidak akan menajdi besar. atau bahkan cukup hingga saya menjadi sahabat bagi mereka, dan (hanya) mulai membangun tanggung jawab, bukan mengambil seutuhnya. Andaikan waktu bisa berhenti atau bahkan berputar kembali, mungkin saya akan memilih untuk tetap berada di fase-fase itu.

tapi ternyata tidak bisa demikian. semua sudah dirancang dengan indah hingga saya menemui angka ini. tentu ada peran yang tertulis dalam skenarioNya. hanya tinggal menanti jutaan pilihan yang akan ditawarkan dalam cabang-cabang kehidupan.

Pada akhirnya sayalah yang harus menentukan peran itu. dengan siapa, menjadi bagaimana, dan seperti apa. Mereka seolah (hanya) memberikan sebuah puisi untuk menghantarkan anaknya menuju fase yang tanpa batas itu..

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.
 
Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
 
Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.
 
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.
 
Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
 
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.
 
Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.
 
(Anak-Kahlil Gibran)
 
 
 

mengasah anak panah,
lalu mulai menentukan arah.

sebuah renungan
Awal Oktober 2011

sumber gambar: internet