sebuah surat, untuk sahabat

Dear my best friend I had ever..

Syukur yang tak pernah henti atas segala anugrah yang telah diberikanNya kepadaku, sehingga menggugah hati ini untuk menyapamu melalui surat ini. Pengorbanan luar  biasa yang dilakukan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw. dalam memperjuangkan keutuhan umatnya, juga menguatkanku untuk menuliskan kalimat-kalimat perjuangan dalam bingkai yang (semoga) masih diizinkanNya.

Apa kabar, sahabat?

Mungkin mulai detik ini hingga waktu yang tidak dapat ditentukan, sapaan itu yang akan kutujukan untukmu. Toh dulu kita pernah menjadi sahabat yang saling mengingatkan dalam kebaikan bukan?

Sebelumnya, aku memohon maaf atas kelancanganku mengirimimu surat yang mungkin tidak pernah diharapkan. Karena memang tidak mudah untuk membacanya, apalagi menuliskannya. Aku hanya perlu mengungkapkan sesuatu yang dahulu pernah aku tutup rapa-rapat dan aku sesali itu. Tapi tujuan dari surat ini bukanlah sebuah penyesalan, tetapi sebuah ungkapan terimakasih, dari lubuk hatiku yang terdalam. Aku tak peduli, setelah ini bagaimana pandanganmu terhadapku. Tapi bagiku kau tetap sahabatku.

Aku juga ingin mengabari  sebuah berita bahagia. Mungkin kau sudah mendapatkannya dari teman kita yang lain. Tapi rasanya aku ingin mengabarimu secara khusus, karena kau sahabatku bukan? Ya, dalam minggu ini aku akan menggenapkan separuh agamaku. Allah telah memilihkanku seseorang yang ia pun yakin akan pilihan itu. Begitu juga aku. Semoga kau berkenan menghadirinya. 

Kalau boleh sedikit mengulas masa lalu, aku sempat berharap bahwa kaulah yang Allah pilihkan untukku. Percakapan kita, perjalanan kita seolah meyakinkanku bahwa sosok sepertimulah yang akan mendampingiku.  Mungkin karena rasa yang terlalu mendominasi sehingga kadang rasio yang kumiliki tidak berjalan dengan semestinya. Aku terlalu nyaman dan aku pun merasakan kau demikian. Meski hingga detik ini, aku tidak pernah memahami dengan jelas bagaimana perasaanmu kepadaku.

Tapi bukankah mata tidak dapat berbohong, sahabat. Kau boleh mengejekku terlalu percaya diri terhadap ucapanku setelah ini. Tapi aku merasakan bahwa kau pun memiliki perasaan yang sama dengan yang aku rasakan. Meski rasiomu jauh lebih tinggi dan dapat mengalahkannya.

Aku tau, aku bersyukur bahwa saat itu, rasa yang kumiliki berkembang untukmu. Karena kita memang memiliki prinsip yang sama untuk tidak mengucapkan komitmen apapun. Pertemuan kitapun ala kadarnya, bersama dengan teman-teman yang lain. Meski terkadang ada pembicaraan serius yang hanya dapat aku sampaikan padamu, tapi itu sebatas masalah pekerjaan bukan? Kita tidak pernah berbicara tentang aku maupun tentang kamu. Dan apapun tentang perasaan itu.

Aku selalu meyakini, bahkan hingga detik ini bahwa segala hal yang berhubungan dengan perasaan memang tak perlu diucapkan, hanya perlu dirasakan. Karena pertemuannya ada di langit, bukan di bumi. Maka jika memang ada yang bergetar, maka itulah hasilnya, sebuah karunia yang tak tergantikan.

Awalnya, aku memang tidak mau mengakui bahwa aku punya perasaan yang bahkan akupun tak pernah tau apa namanya. Aku tutup serapat mungkin dan sembunyikan sedalam-dalamnya di hatiku. Tak ada yang boleh tau. Bahkan mungkin ujung jempolku pun tak pernah kukabari. Tapi ternyata tidak bisa seperti itu. Perasaan itu adalah fitrah yang Allah berikan kepada kita sebagai manusia. Mungkin lisanku bisa berkata tidak, tetapi hatiku tetap bilang iya.

Maka setelah  itu aku menyadari bahwa getaran itu ada untukmu. Tak perlu kujelaskan bagaimana rasanya, karena aku tau kau pun merasakannya.  Bukankah kau pernah bilang bahwa naluri dan firasat mengalahkan segala hal yang dapat dibuktikan dengan logika. Maka firasat inilah yang meyakiniku bahwa kau memiliki getaran yang sama, seperti yang aku miliki.

Lalu seiring berjalannya waktu, kita sama sama beranjak menuju dewasa. Aku dengan mimpiku, dan kau dengan mimpimu. Bahkan mungkin ada irisan mimpi kita yang tergambar bersama. Lambat laun rasioku mulai bermain, kemanakah arahnya jika kita tetap dalam keadaan seperti ini? Perasaanku yang seringkali campur aduk ketika mendapati kau bermain bersama teman perempuan lainnya, atau bahkan keberadaanmu yang sering kupertanyakan. Aku mulai lelah. Bukan karena berlari saling kejar mengejar. Aku lelah karena ternyata aku mulai merasakan ada yang aneh dengan kondis ini. Mulai muncul berbagai macam pertanyaan yang membuatku bimbang. Bukankah zina yang paling tinggi levelnya adalah zina hati? Tahukah kau, aku merasa menjadi manusia yang paling berdosa ketika aku menyadari bahwa hatiku telah dipenuhi oleh bayanganmu dan bahkan namamulah yang selalu ada dalam doaku.

Aku terpukul. Ada yang harus aku lakukan dengan sebuah kesadaran ini. Akhirnya aku ceritakan semua hal yang membuatku bimbang itu pada seseorang yang aku percaya. Dan ia katakan padaku, “tunjukkan perasaanmu sehingga ia sadar bahwa kau memiliki rasa yang berbeda untuknya. Jika ia memang memiliki niat yang sama, ia akan maju.”

Awalnya aku merasa bahwa itu adalah saran terburuk yang pernah aku dapatkan. Bisakah kau bayangkan? Aku diminta menunjukkan perasaanku padamu, padahal selama sekian lama aku dapat membungkusnya dengan rapi tanpa diketahui oleh siapapun. Gengsiku mendominasi. Namun akhirnya aku mendapatkan kesadaran tentang ilmu ikhlas. Aku tau, semua itu tidak mudah memang. Banyak sekali kekhawtiranku sebelum aku melakukannya, salah satunya dalah ketakutan perasaanmu menjadi berubah setelah aku menunjukkan perasaanku. Karena itu yang kutau dari kebanyakan laki-laki, perasaannya terhadap wanita akan menghilang setelah mendapati bahwa mereka telah luluh terhadpanya. Sejujurnya aku sangat takut akan hal itu. Lalu aku sampaikan ketakutanku itu kepada ia yang memberiku saran. Lalu dengan tegas ia menjawab, “ilmu ikhlas itu adalah berbuat baik sebanyak-banyaknya tanpa berharap balasan apapun dari yang kita berikan kebaikan. Termasuk juga hal ini. Tunjukkan saja kebaikanmu kepadanya secara wajar, sesuai apa yang kamu inginkan. Berjodoh atau tidak kamu dengannya, bukan urusan kita. Serahkan pada Yang Memiliki Hak atasnya.”

Dan seketika aku tersadar, ia benar. Tak perlu aku pedulikan responmu. Toh hanya Allah-lah Sang pembolak-balik hati. Akhirnya kuputuskan untuk memperlakukanmu dengan perhatian yang sama dengan yang lainnya. Aku tau kau pasti kaget. Aku yang biasanya cuek dan cenderung jutek, tiba-tiba menjadi begitu lembek. Aku tak peduli. Ada yang harus aku lalui untuk mendapatkan jalan yang lebih menenangkan hati.

Hari berganti hari, hingga bulan berganti bulan. Tidak ada respon yang berarti dari sikapmu. Aku tau kau juga bahagia dengan perubahan sikapku. Tapi bukan itu yang aku harapkan. Barulah kusadari sekarang, mungkin kau belum cukup siap untuk menyatakan sebuah komitmen besar yang akan kau bangun, meski sebenarnya hatimu menginginkannya. Mungkin saat itu seharusnya aku memilih untuk menunggu.

Tapi takdir ternyata berkata lain. Allah memang menakdirkan kita untuk bertemu dengan jalan yang menyenangkan tapi bukan dengan akhir yang dipertemukan.

Saat itu hanya ada satu dalam anganku, bukan ucapan selamat tinggal, hanya sebuah pernyataan untuk menguatkan hatiku: selamat tinggal rasa, karena yang akan kukejar adalah cita.

Begitulah akhir kebimbanganku yang akhirnya terjawab dengan sangat luar biasa oleh Sang Maha Penjawab. Aku pun berharap agar kau segera mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanmu yang juga luar biasa itu.

Oya, sebelum aku menutup tulisan ini, aku punya bebrapa pesan singkat untukmu dari kacamataku sebagai perempuan. Karena kita sahabat, maka kita harus saling mengingatkan bukan?

Karena kami bukan seorang Khadijah yang luar biasa yang berani untuk meminang Muhammad yang mulia..
Kecuali kau merasa seperti beliau, yang layak dipinang oleh wanita istimewa itu..
Maka jadilah ia yang perkasa, membulatkan tekad, memantapkan hati, lalu ucapkan:
“Bersediakah engkau membangun peradaban yang mengagumkan? Bersamaku, menjadi bagian dari cita-citaku?”

Aku berharap kau akan menemukan seseorang yang membuatmu berani untuk menyatakan kalimat yang mulia itu. Beranilah. Tak perlu takut bahwa kau akan ditolak. Anggaplah seperti kau sedang melamar pekerjaan, menunjukkan kemampuanmu dengan optimal, tetapi jika kau tidak diterima bukan berarti kau tidak keren atau jelek. Hanya saja kualifikasimu yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh perusahaan tempat kau melamar. Potensimu menjadi seorang dokter, tetapi perusahaan itu membutuhkan seorang insinyur. Tidak ada yang buruk bukan? Aku yakin perusahaan itu akan sangat menghormatimu karena kau menyanjungnya sedemikian rupa, meski ia tidak membutuhkan dokter, tetapi ia tahu bahwa sang dokter pernah menghargai sebuah perusahaan yang membutukan insinyur. Bukankah itu luar biasa, sahabat?

Bergeraklah, sehingga semua energi positif akan bergerak mengikutimu. Tentu jika kau menyatakan dirimu sudah siap dengan keputusan yang akan kau ambil. Tapi saranku, jangan terlalu lama menghabiskan waktumu untuk berpikir. ‘perusahaan’ yang memiliki catatan yang baik, tidak banyak di dunia ini. Ia akan menjadi serbuan banyak ‘pengangguran’ yang membutuhkan sokongan dan dukungan untuk mejalankan kehidupan.

Segeralah bangkit dari ketakutan, maju, dan serahkan semua padaNya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan ketika niat yang kita junjung adalah untuk berjihad di jalanNya. Selalu ada pertolongan yang tidak terduga.

Selamat menemukan perusahaan yang akan mendampingimu membangun peradaban!!

Sincerely,
Sahabatmu.

Berdasarkan kisah nyata milik tetangga,
sebuah memoar tentang rasa.

sumber gambar: internet