produk lokal ala RD

to dream, the impossible dream
to fight, the unbeatable foe
to bear, the unbearable sorrow
to run, where the brave dare not go

to right, the unrightable wrong
to love, pure and chaste from afar
to try, when your arm are too weary
to reach, the unreachable stars..

Matt Monroe-The Impossible Dream 

Kemenangan Indonesia pada malam hari ini, memperkuat keinginan saya untuk sekedar mencurahkan kegalauan ini. Akhirnya, setelah sekian lama tidak pernah masuk final dalam ajang Sea Games, Indonesia kembali menorehkan sejarah indahnya. Itu satu hal. Selanjutnya, ada sebuah fakta yang menggelitik hati,  bahwa pelatih tim U23 yang mengusung kemenangan ini adalah seorang Indonesian, asli buatan dalam negeri, tidak ada blesteran manapun. Paras dan namanya dengan tegas menunjukkan bahwa ia adalah orang lokal, Rahmad Darmawan (RD). Mungkin Alfred Riedl atau penggantinya setelah itu, yang sekarang sedang berkutat dalam pertandingan pra piala dunia, memiliki kemampuan melatih yang luar biasa. Tapi menurut saya, ada satu hal penting yang tidak mereka pahami; nilai-nilai, keyakinan, kebiasaan, serta perilaku yang dimiliki oleh orang Indonesia, atau bisa kita sebut sebagai budaya. Meskipun memang ada beberapa pemain naturalisasi yang menjadi bagian dari tim, sepertinya proses naturalisasi itu membuat mereka memiliki karakter yang mirip seperti orang Indonesia. Atau setidaknya mereka ‘dipaksa’ untuk memiliki karakter demikian.

Melihat fenomena di negeri kita, saya merasa bahwa permainan sepakbola bukan sekedar cabang olahraga yang selesai dibahas dengan menang dan kalah. Efeknya lebih dari itu. Bahkan bisa turut mengguncang kancah perpolitikan dunia. Celetukan ibu yang kebetulan nonton pada hari ini, turut meyakinkan saya bahwa kemenangan para pemain sepak bola kali ini dapat memberikan hal yang positif bagi Negara kita ini.

“Kayaknya kalau pertandingan ini menang, kepercayaan diri rakyat Indonesia semakin meningkat ya. Semua orang akan bangga menjadi bagian dari Negara ini.” (Kemudian hening) Karena si Ayah sedang serius menikmati permainan indah dari para pemain, tentu saja komentar tersebut seolah hangus begitu saja. Tapi tidak dengan saya. Kata-kata itu berhasil menarik saya pada pada sebuah kejadian di 3 hari yang lalu.

Tepat pada tanggal 16 November 2011, Saya bersama seorang teman sepermainan mendengarkan kuliah umum yang disampaikan oleh Kepala BSN Bapak Bambang Setiadi dalam kegiatan tahunan yang rutin diselenggarakan. Tentu sebagai lembaga pemerintah, BSN memiliki visi terselubung untuk menanamkan nilai-nilai lokalisasi yang cukup sulit diterapkan di era globalisasi ini. Yang menarik adalah tema yang diusung pada event kali ini (karena saya belum pernah mengikuti event ini pada tahun-tahun sebelumnya), adalah kalimat yang sangat sederhana tapi menempel hingga lengket dalam memori saya, “Membangun Percaya Diri Bangsa”.

Beliau secara singkat menceritakan, bagaimana persaingan di era globalisasi ini semakin menekan produk-produk asli Indonesia. Kebanggaan menggunakan produk dalam negeri semakin tergerus dengan munculnya produk-produk yang berlabel internasional. Lebih keren, lebih gaul, lebih oke. Telak tanpa kata saya terpaku, tersindir tanpa ampun. Seringkali saya merasa bangga menggunakan sepatu bermerek agak kebarat-baratan dibandingkan made in Cibaduyut yang jelas-jelas buatan asli orang Indonesia.

Kemudian pada menit berikutnya, beliau menunjukkan sebuah pompa made in China bertuliskan merek “Firman” yang bagi siapapun yang melihat dan mendengarnya, mengetahui dengan jelas dan pasti bahwa nama itu adalah Indonesia punya. Seperti Firman Utina sang pemain bola, ataupun Teuku Firmansyah si artis dari negeri Serambi Mekkah. Saya tertawa, lucu tentu. Hebat sekali pemikiran yang dimiliki oleh bangsa besar itu, hingga bahkan hal yang ‘sepele’ seperti inipun dapat dijadikan strategi jitu menembus pasar Indonesia yang mungkin mayoritas masyarakatnya masih memiliki budaya beli, “yang penting murah, mutu nomer sekian”

Kuliah singkat itu ditutup dengan himbauan untuk menggunakan produk yang memiliki label SNI, karena produk itulah yang sudah lolos verifikasi mutu. Bekerjasama dengan beberapa lembaga penelitian di Indonesia, untuk jenis produk makanan dan yang lainnya, BSN menjamin bahwa label SNI adalah salah satu cara yang dapat menjadi garansi keamanan penggunaan sebuah produk. Saya tidak bermaksud untuk ber-iklan, tetapi sepertinya ini bisa menjadi solusi untuk mendapatkan produk lokal yang bermutu. Karena mungkin selama ini, alasan untuk tidak memilih produk lokal adalah karena mutunya yang kalah dibandingkan dengan produk impor.

Kembali lagi pada Pak RD.  Barangkali beliau adalah produk lokal yang sudah mendapat cap SNI. Mutunya tidak kalah oke dengan produk impor. Meskipun saya tidak mengerti dengan jelas bagaimana sejarah Bapak RD bisa menjadi pelatih tim U23 ini, tapi bagi saya beliau adalah sebuah permata yang sempat tenggelam dalam lumpur yang hitam. Baru muncul dan kelihatan.

Mungkin memang benar kata orang bahwa bangsa ini adalah bangsa yang inferior. Seringkali kita merasa bahwa kita adalah Negara berkembang yang tidak memiliki peluang untuk maju. Didukung dengan semakin banyaknya permasalahan dalam negeri yang alih-alih berkurang malah semakin rumit dan tidak jelas juntrungnya. Terkadang saya juga merasa hopeless, patah semangat, malu dan tidak percaya diri. Bagaimana hari tua saya nanti? Apakah Indonesia akan tetap seperti ini?

Dan pada malam ini, kegalauan saya terjawab. Saya percaya bahwa Indonesia akan menemukan sebuah titik balik, dimana semua orang meyakini bahwa Indonesia akan menjadi Negara yang luar biasa, menjadi bangsa yang unggul dan dapat dibanggakan.

Dalam bukunya, Imperium III, Eko Laksono mengatakan, “…sejak ratusan tahun yang lalu, banyak bangsa telah menemukan ‘rahasia’ menjadi bangsa terunggul.” Mungkin kita hanya belum menemukan rahasianya. Sebuah cara yang tepat untuk menjadikan Indonesia sebuah Negara yang besar, seluas tanahnya, setinggi gunungnya, dan sedalam lautannya.

Dalam benak saya, salah satu rahasia yang mungkin perlu dimulai untuk ditumbuhkan adalah kepercayaan diri yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Mungkin 11-12 dengan rasa nasionalisme. Tapi menurut saya hal ini lebih mendalam. Rasa nasionalisme kita akan terusik manakala ada sebuah kejadian yang secara frontal menggugat status kita sebagai warga negera Indonesia. Namun, ke-rendah diri-an atau ke-tidak percaya-an seringkali muncul begitu saja ketika melihat fenomena yang terjadi dalam negeri ini, perlahan tetapi pasti.

Di sisi lain, kita juga perlu belajar pada bangsa-bangsa yang sudah terlebih dahulu menjadi bangsa yang unggul. Renaisans di Bumi Eropa, lalu Jepang menyusul dengan Restorasi Meiji-nya. Mereka kemudian membangun budaya yang kuat, yang dapat diajarkan secara turun menurun pada anak-cucunya hingga kini. Mereka menemukan rahasianya, mempelajarinya, dan melakukannya.

The best way to predict the future, is to invent it. >Alan Kay

Berikut ini adalah  hasil dari visi pembelajaran sebuah bangsa yang unggul ala Eko Laksono:

  • Generasi yang unggul secara intelektual, emosional, dan spiritual.
  • Negarawan dan pejabat yang efektif dan bermoral baik.
  • Masyarakat yang lebih damai, stabil, dan memiliki keeratan sosial tinggi, mampu memecahkan masalah-masalahnya secara logis dan rasional.
  • Pengusaha-pengusaha yang berdaya saing tinggi, berwawasan global, cepat dalam mengadopsi teknologi terbaru, dan mengembangkan pasar.
  • Tenaga kerja yang produktif, efisien, adaptif terhadap sistem dan teknologi yang terus berkembang.
  • Aparat hukum berkemampuan tinggi yang akan menciptakan sebuah Negara yang teratur dan bersih.

Barangkali, suatu hari nanti 6 hal diatas akan menjadi hal yang lumrah ditemui di negeri kita ini.
Karena (ternyata) kita adalah bangsa yang unggul.

Mari kita bermimpi(lah), berbangga(lah), dan temukan(lah).
Mungkin kitalah yang akan menjadi RD-RD selanjutnya, who knows.