sampah yang tak bersalah

Dewasa ini, banyak LSM lingkungan yang menyerukan untuk menjaga lingkungan terkait dengan global warming yang menjadi isu di seluruh belahan dunia. Kampanye untuk mulai mencintai tanah dan alam semakin marak. Himbauan untuk menghemat air, menghemat listrik, mengurangi penggunaan BBM dan menggunakan produk-produk yang ramah lingkungan. Bahkan beberapa perusahaan tingkat internasional juga sudah mulai meluncurkan produknya yang berlogo eco ataupun green. Kampanye semacam itupun pernah menjangkit para mahasiswa di kampus  saya, termasuk saya sendiri. Beberapa kegiatan dimunculkan untuk mendukung program ini, disertai dengan slogan yang juga tidak kalah seru. Namun saya merasa euforia itu seakan timbul dan tenggelam, tanpa ada realisasi yang cukup dalam kehidupan saya pribadi.

Beberapa isu juga mulai merebak di kota tempat saya berasal. Pegunungan sampah hingga terabaikannya TPA membuat banyak ruas tempat yang dilewati dipenuhi dengan tumpukan sampah yang menimbulkan banjir sampah. Sungguh menyedihkan, pikir saya waktu itu. Saya hanya mampu berpikir , mengamati, kemudian berdiam diri, karena posisi saya tidak memiliki waktu dan kesempatan yang cukup luang untuk terjun secara langsung. Keberadaan saya yang jauh dari rumah menjadi salah satu penyebab yang (mungkin) bisa dijadikan kambing hitam.

Hingga pada akhir tahun lalu, saya memiliki waktu yang cukup untuk berdiam diri di rumah dan memperhatikan kehidupan hariannya. Suatu hari, saya terheran-heran mendapati ada 2 tong sampah di pojok dapur, tepat dibawah wastafel tempat cuci piring. Dalam hemat saya, “Lebai banget sih, sampai ada 2 segala tempatnya. Emang banyak banget ya sampah dapurnya?” Pertanyaan tersebut saya ajukan kepada ibu di hadapan ketiga adik saya. Diluar dugaan, saya malah diledek oleh salah satu dari mereka, “Teteh, itu yang satu untuk sampah basah, yang satunya untuk sampah kering. Gimana sih, gak gaul banget deh!” Saya tertohok, sekaligus tergelak dengan jawaban itu. Penasaran, akhirnya saya meminta menceritakan awal mula mereka melakukan pemisahan tersebut.

Ide itu tentu saja muncul dari Ayah. Tetapi dalam prakteknya, tentu Ibu yang berperan lebih banyak. Pernah suatu hari, kami kedatangan saudara jauh yang menginap di rumah. Tentu mereka mengkonsumsi sampah, basah dan kering. Karena tidak mengerti ‘aturan persampahan’ di rumah kami, mereka memasukkan secara acak di dua tong sampah tersebut. Hal itu menjadi pekerjaan tambahan bagi ibu. Ia harus memindahkan sampah-sampah tersebut ke kamarnya masing-masing sesuai dengan jenisnya. Bagi saya, itu terlihat sangat menjijikan. Tetapi mungkin itu yang harus dilakukan untuk menunjukkan komitmennya.

Kemudian, sekitar  2 minggu yang lalu, adik saya yang sedang duduk di bangku SMP melakukan percobaan pembuatan pupuk kompos di sekolahnya. Bahan utamanya adalah tumpukan sampah basah yang berada di dapur. Pagi-pagi ia mengeluarkan sampah yang berisi: kupasan bawang, cangkang telur, potongan sayur, tulang belulang, kulit dan biji buah-buahan, dsb; untuk dipindahkan ke dalam ember,  tentu dengan menutup mulut dan hidungnya dengan balutan kain. Seminggu selanjutnya, dia bercerita telah berhasil membuat pupuk dan menggunakannya untuk tanaman yang ada di sekolahnya. Saya hanya tersenyum, terkagum-kagum mendapati karya yang dia ciptakan. Sederhana memang, tapi bagi saya itu luar biasa; tentu saja, karena dahulu saat  di usia itu saya belum bisa melakukannya.

Hal itu mengingatkan saya pada sekitar 5 sampai 6 tahun yang lalu, ketika saya duduk di bangku SMA dan mengikuti lomba KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang diadakan oleh pemerintah wilayah Bandung. Lomba ini bertemakan lingkungan dan saya mengambil judul (kalau tidak salah) “Pengelolaan Sampah Menggunakan Metode 4R (reduce, recycle, reuse, replace)”. Saat menuliskannya, saya hanya berbekal internet dan beberapa literatur buku yang relevan dengan tema tersebut. Sama sekali tidak terbersit dalam otak saya untuk mencobanya terlebih dahulu dalam kehidupan sehari-hari secara nyata. Dalam tulisan tersebut, saya menghimbau masyarakat untuk menerapkannya pada berbagai aktivitas terutama kegiatan pada  skala rumah tangga.

Dari sisa ingatan saya mengenai metode 4R (karena filenya entah sudah berada dimana), 4 metode tersebut dapat dilakukan dengan cara seperti dibawah ini, kali ini alhamdulillah saya  sudah mencoba mempraktekannya di rumah:

–          Reduce (mengurangi)
Mengurangi pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar. Misalnya, bisa dimulai dengan tidak membeli shampoo yang sachet untuk konsumsi di dalam rumah. Kalau penghuninya banyak seperti di rumah saya, sebaiknya langsung membeli yang berukuran besar, sehingga dapat diisi ulang dan tidak banyak menghasilkan limbah.

–          Recycle (mendaur ulang)
Disinilah fungsi pemisahan sampah basah dan kering menjadi sangat penting. Sampah basah (organik) dapat didaur ulang menjadi pupuk kompos, sedangkan sampah kering (anorganik) dapat dikumpulkan untuk didaur ulang menjadi kertas, atau bahkan produk-produk yang sekarang mulai dikembangkan UKM, seperti tas dari bekas pasta gigi ataupun kreasi lainnya.

–          Reuse (menggunakan kembali)
Menggunakan kembali wadah/kemasan yang memiliki fungsi yang sama. Ibu saya hobi sekali melipat keresek yang didapatnya dari tukang sayur, warung, atau bahkan pusat perbelanjaan. Sehingga di dapur banyak sekali keresek2 yang nantinya akan digunakan kembali untuk fungsi yang kurang lebih sama: membawa barang.

–          Replace (menggantikan)
Ini adalah bagian yang paling sulit. Kami seringkali menggunakan tissue untuk mengelap basah ataupun fungsi lainnya. Mencoba menggantinya dengan lap semcam plas chamois ataupun sapu tangan adalah sebuah proses yang tidak mudah. Seringkali saya malas untuk mencucinya setelah selesai dipakai, tapi memang mengubah kebiasaan itu harus dipaksa.

Demikianlah sekelumit rasa bersalah saya –yang baru muncul sekarang- ketika menuliskan paper itu. Saat itu paper tersebut hanya lolos sampai semi final, terjegal pada sesi presentasi. Mungkin karena tulisan itu hanya omdo –omong doang- jadi sang juri dapat merasakan ke-tidakserius-an si penulis dalam menyampaikan idenya. Terkadang sesuatu yang tidak keluar dari hati, tidak akan sampai pada hati pendengarnya juga. Mungkin begitulah kondisi saya pada saat itu.

Seringkali masalah sampah ini menjadi pembicaraan banyak orang, seolah mereka yang bersalah membuat rumah terlihat berantakan, perumahan menjadi kumuh, taman kota menjadi tak indah. Padahal satu-satunya yang perlu dipersalahkan adalah saya, kita, manusia yang memiliki akal dan nurani namun seringkali tidak menyadarinya. Mungkin ini terlihat sepele, tapi apa jadinya jika membuang sampah dimana saja, kapan saja dan sesuka hati menjadi budaya yang dianggap sah-sah saja untuk kebanyakan orang. Sungguh malang nasib anak cucu kita nanti.

Mari kita sayangi sampah-sampah itu, karena (sepertinya) kitalah yang membuat mereka menjadi makhluk yang dipanggil sampah.

Semoga kesadaran ini belum terlambat untuk disadari dan dipraktekkan. Maka mari kita memulai dengan metode 3M: mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai saat ini.

si basah dan si kering

untuk jutaan sampah yang berserakan.
160212

dokumentasi: pribadi