Februari: berseri, menari, berlari

Dari penjuru Indonesia
Berikrar tuk maju bersama
Berusaha dan panjatkan doa
Menyongsong masa depan

Generasi penerus bangsa
Berjuang dengan rasa bangga
Barisan muda berjaya
Demi bangkit negeri kita

Bahu membahu
Menggali ilmu
Jangan kita siakan waktu
Hormati guru
Jaga perilaku
Pasti kita kan mampu

Universitas Bakrie kita
Berkarya bagi sesama
Jangan ada kata tak bisa
Wahai civitas bangkitlah

Universitas Bakrie kita
Kau kan selalu ada di dada
Kini telah tiba masanya
Sumbangsihmu untuk negara

(Mars Universitas Bakrie)

Februari tahun 2012 adalah bulan yang sangat ditunggu oleh mahasiswa kampus Universitas Bakrie. Bukan karena tahun ini adalah kabisat dimana orang yang lahir tanggal 29 februari berulang tahun selama 4 tahun sekali; tetapi karena bulan ini akan menjadi sangat istimewa.

Pada bulan ini, dilangsungkan sebuah prosesi dimana kami resmi tidak lagi menjadi mahasiswa. Suasana yang terjadi campur aduk, begitu mewah namun tetap khidmat. Apalagi pada bulan dan tahun ini, bertepatan dengan ulang tahun Kelompok Usaha Bakrie yang ke-70, dimana banyak diadakan kegiatan yang dilangsungkan untuk meperingati tahun genap ini. Tak ada alasan bagi kami untuk tidak berbahagia, atau bahkan lupa mengucap syukur.

Mereka berseri.

Ada haru, ada bahagia. Tentu yang paling utama adalah bangga. Semua perasaan itu tumpah ruah pada hari itu. hampir tidak bisa ditemukan raut wajah cemberut ataupun bersedih. Semua rona adalah bahagia. Meski mungkin beberapa waktu sebelum itu, banyak dari dosen kami yang menjadi penanggung jawab acara ini terlihat sibuk dan khawatir. Tapi toh semua dibayar dengan tunai pada hari itu. Hari dimana para orangtua kami terlihat sangat bahagia, juga bangga. Setelah sekian lama mereka dengan sabar berdoa dan berusaha untuk melihat putra dan putri yang amat dibanggakannya menjadi sarjana. Mereka berseri. Hari dimana aura kelegaan meliputi dada para dosen-dosen kami. Sebuah kebanggaan yang juga tiada tara, melihat mahasiswa didiknya berhasil melewati fase-fase yang cukup sulit di masa perkuliahan. Mereka juga berseri. Dan yang paling utama, meski keberadaannya tidak nyata dihadapan kami; kami meyakini dengan sangat, bahwa perasaan yang sama juga merasuk kedalam sanubari Bapak dan Ibu penggagas Bakrie School of Management yang kini menjadi Universitas Bakrie, dimana sebagian besar dari kami mendapatkan beasiswa penuh selama menjadi mahasiswa disana. Ucapan terimakasih juga tentu mengisi relung hati kami, tanpa mereka, tentu kami tak akan menjadi seperti saat ini. Perasaan haru ini semakin menyusup manakala Hymne Bakrie digaungkan dalam serangkaian prosesi pelantikan kami. Diiringi dengan lagu ‘Gaudeamus Igitus’, kemudian ‘Indonesia Raya’ dan dilengkapi dengan ‘Bagimu Negeri’. Disinilah saya, disinilah kami. Sebuah takdir yang harus disyukuri.

 

foto bersama wisudawan dan senat akademik

Mereka menari.

Selepas acara pelantikan yang bersifat formal, sebuah tradisi ternyata masih harus dijalankan. Kami digiring oleh rekan-rekan mahasiswa untuk masuk ke dalam bis dan di-konvoi menuju kampus. Iringan motor sepanjang jalan  dari Jakarta Convention Center (JCC) memberikan nuansa yang energik. Hingga setibanya di area kampus Universitas Bakrie, di bilangan Kuningan-Jakarta Selatan, kami masih harus terpesona dengan kejutan-kejutan kecil yang mereka berikan. Mereka menari. Lalu kami pun ikut menari. Tak terbayangkan bagaimana persiapan yang mereka lakukan untuk membuat gerakan yang kompak dan menggoda penontonnya untuk ikut menari bersama mereka. Alunan musik terus diperdendangkan sepanjang tarian itu berlangsung. Oya, sebelumnya kami pun dikejutkan dengan petasan-petasan yang bunyinya sangat menggelegar, hingga mengguncang haru perasaan kami. Ini adalah sebuah rangkaian yang tak terlepas dari kejutan pelepasan yang dilakukan pada satu malam sebelumnya, dirangkai bersama para alumni, wisudawan angkatan 1 Universitas Bakrie. Malam itu juga menjadi sebuah momen yang tidak akan pernah bisa kami lupakan. Kami digiring layaknya mahasiswa baru, juga dipaksa untuk menonton potongan2 gambar kami di masa lalu. Ada haru, ada malu. Semua menjadi satu.

menarinari

Ini dinamakan tarian flashmob

perjalanan dengan tutup mata

malam pelepasan

Lalu kami berlari..

Masih belum berhenti sampai disitu, kami diminta berlari menuju area samping kampus. Tentu kami, kaum wanita tidak mampu memenuhi permintaan itu. kami hanya mampu berjalan pelan-pelan, mengingat alas kaki yang kami gunakan tidak dapat memfasilitasi keinginan tersebut. Sampai pada tempat tujuan, kami dipersilakan untuk berjalan sendiri-sendiri, bak ratu dan raja yang turun dari kahyangan, tergelar karpet merah dihadapannya, disertai dengan ucapan yang luar biasa dari kanan dan kirinya. Kurang lebih sebanyak 30 langkah kami harus berjalan dengan diiringi senyum dan salam dari mereka, menuju ke tempat evakuasi terakhir. Kami diberikan sebuah kertas yang harus diisi dengan cita-cita kami di masa depan. Lalu kertas tersebut ditempelkan pada balon-balon yang akan diterbangkan. Membiarkan angan kami terbang, berlari entah kemana, mencari jalannya masing-masing.

balon-balon harapan

Prosesi ini kemudian ditutup dengan dilemparkannya topi toga kami ke awan, dan dibentangkannya sebuah spanduk bertuliskan: Congratulation, thankyou and godbye. Kemudian setelah itu kami membubuhkan tandatangan di spanduk tersebut, dilanjutkan dengan acara peluk-pelukan juga tangis-tangisan. Tapi saya, harus men-skip acara terakhir itu, karena gemuruh yang bergejolak di dada tidak mampu diungkapkan “hanya” dengan peluk dan tangis. Bagi saya, ini (seharusnya) tidak berhenti di sini.

 We dont need to say godbye, we just need more space…

Ya, kita (seharusnya) tidak perlu mengucapkan selamat tinggal. Kita hanya membutuhkan sedikit waktu, jarak, dan ruang untuk tersebar lalu berjuang, namun akan kembali bertemu suatu saat nanti. Dimanapun dan kapanpun itu. Dengan sebuah harap, bahwa kita akan kembali berjumpa kelak di Surga-Nya. Karena cita-cita utama kita, tentu sama bukan?

Ya, inilah februari kami: berseri, menari, dan berlari.

Akhir Februari 2012
Terimakasih, dan Mari Berjuang!

Special thanks to: Neng Rahayu Iswara, juga Bung Dyama Khazim atas kesediaannya membantu menemukan dokumentasi2 diatas.