karma (1)

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (Al Hajj : 46).

(Akhir tahun 2011)

Hari itu, tak pernah ada rencana yang dibicarakan sebelumnya. Semuanya serba mendadak. Dari obrolan basa-basi yang agak tidak jelas, hingga akhirnya memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan yang cukup panjang, menghabiskan siang dan malam yang jaraknya lebih dari 600 km.

Maka bersama seorang teman seperguruan, setelah kalang kabut mencari tiket kereta yang sangat digemari pada akhir tahun itu, kami akhirnya mendapatkan tiket kereta api malabar. Kota tujuan ini menjadi salah satu wish list yang ingin dikunjungi, demikian juga ternyata rekan saya itu. Karena sebelum tercapainya kesepakatan tersebut, kami sempat beradu argumen mengenai kota tujuan kami hingga akhirnya tercetuslah secara bersamaan: Malang.

Kenyataan lain yang juga tidak kalah penting dalam perdebatan kami adalah mengenai budget dimana kami secara mau-tidak-mau harus memilih menggunakan kelas ekonomi yang ternyata tidak seburuk yang diperkirakan. Dan justru keadaan inilah yang akhirnya memberikan sebuah pelajaran yang sederhana namun sangat berharga bagi saya.

Kami bersepakat untuk bertemu di stasiun Bandung pada pukul 15.00 karena pada tiket tertera keberangkatan kereta malabar adalah pukul 16.00. Tak banyak barang yang kami bawa. Seperti dikomando, kami kompak hanya membawa sebuah tas ransel yang mewadahi seperangkat kebutuhan sandang kami. Kira-kira 10 menit sebelum keberangkatan, kami berjalan memasuki gerbong kereta dan mencari tempat duduk yang menjadi hak milik kami selama menempuh perjalanan kurang lebih 16 jam. Setelah yakin bahwa nomor di kursi sama dengan yang tertulis di tiket, maka kami pun menjatuhkan diri di atas kursi empuk itu. Selang beberapa menit kemudian, terdengarlah suara peluit tanda kereta mulai diberangkatkan.

Mengisi kekosongan waktu yang sangat panjang itu, maka kami pun mengobrol sambil melihat keindahan alam yang menjadi pemandangan di kanan tempat duduk kami. Hingga akhirknya senja tiba, kami melaksanakan shalat maghrib yang digabung bersama isya. Kami melanjutkan kembali obrolan yang tertunda, tentu karena tak ada hal lain yang dapat kami lakukan selain mengobrol, bercerita dan bertukarpikiran. Sampai akhirnya lelah menjemput dan kami pun tertidur.

Di penghujung malam, kami terbangun. Namun tak ada lagi obrolan yang nyaman yang dapat kami lakukan. Selain disamping kami sudah ada penumpang lain yang naik di stasiun daerah jawa tengah, kami bersepakat dalam diam untuk ‘hanya’ menikmati pemandangan malam sambil bercengkrama dengan diri masing-masing. Hingga akhirnya kami tertidur kembali dan kemudian terbangun saat mendengar adzan dari pengeras suara di sekitar perumahan penduduk. Usai menunaikan shalat shubuh, kami tertidur kembali hingga akhirnya dibangunkan oleh kondektur yang meminta  untuk memperlihatkan (lagi) tiket kami. Saya yang masih kaget segera mencari-cari tiket yang sebelumnya sudah dibolongi oleh kondektur lain pada saat kereta berada di daerah Kutoarjo menuju Wates. Panik tidak berhasil menemukan tiketnya, secara spontan keluar ucapan dari mulut saya “Pak kan tadi udah sama temennya sebelumnya. Saya lupa nyimpen dimana tiketnya. Ada kok pak tiketnya.” Kemudian dijawab dengan datar oleh bapak kondektur itu, “ya kan harus dua kali mba. Memastikan saja. Silakan dicari dulu nanti saya kembali lagi kesini.”

Masih dalam kondisi panik, teman saya pun ikut panik tetapi berusaha menenangkan “coba lo cari yang bener tadi ditaro dimana. Di saku lo kali atau di tas yang bagian luar.” Saya tetap panik dan malah menggertu, “gw lupa dimana naronya, tapi tadi yakin banget didalem sini kok. Kok bisa ga ada ya? Apa jatoh kali ya? Lagi juga kenapa harus dua kali sih, ga percaya banget gitu sama kita.”

“ya emang gitu kali SOPnya. Kan ini kereta ekonomi, mungkin supaya lebih teratur aja. Yaudahlah lo cari aja dulu, inget-inget lagi naronya dimana.” Dalam hati saya: sempet ya ngomongin SOP, standar operasional prosedur itu -___-

“ya tapi kan tetep ajaaaa…bikin repot penumpangnya…ehhh ketemu nih ada alhamdulillah” saya yakin saat itu wajah saya berubah sumringah.

“tuhkan..elu sih panik ajaaa”  tepat setelah itu datanglah bapak kondektur yang tadi menjanjikan akan datang kembali. Ternyata dia adalah tipe laki-laki yang tak suka ingkar janji.

“ada mba tiketnya?”

“ada nih, Pak” dengan nada yang memang kedengarannya tidak menyenangkan. Kondektur itu tersenum dan mengembalikan lagi tiketnya kepada saya. Saya menerima dengan muka yang tidak santai sepertinya, yang membuat teman saya berkomentar “santai aja kali muka lo ga usah kayak gitu. Biasa aja nadanya.”

Saya masih sempat ngeles, “kenapa emang muka gue? Emang gue ngomong apa?”

“Kagak, nada lo barusan ga enak aja di dengernya. Jutek banget.”

Udah ga bisa ngeles lagi “lagian gue bete aja, pake harus dua kali gitu, kayak ga percaya ama penumpangnya gitu. Emang sih ini ekonomi, tapi ya ga usah gitu juga kali.”

“yaudah sih, namanya kan prosedur. Dia kan Cuma pelaksana. Ya lo ga usah marah-marah ama dia juga. Alhamdulillah dia ga sewot balik, malah ngasih senyum.”

“yaudahlah ya..yang penting udah ketemu tiketnya dan kita ga diusir dari sini.” Dan topik pun dialihkan pada perbincangan lain.

Hingga akhirnya sekitar pukul 8 pagi, kami tiba di stasiun kepanjen. Tips hemat lainnya yang kami lakukan dalam perjalanan ini adalah menghubungi kerabat atau teman yang tinggal di kota tujuan sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk penginapan. Malangnya, handphone kami berdua memang punya kelemahan yang sama. Boros baterai. Sehingga beberapa waktu sebelum tiba, kami tidak dapat memberikan kabar bahwa kami sudah dekat. Pesan terakhir dari rekan saya adalah bahwa kami harus turun di stasiun kepanjen karena lebih dekat dengan kediamannya. Alhasil, sampai di stasiun kamu luntang lantung belum ada yang menjemput.

kemudian kami melihat ada sebuah ruangan yang didalamnya terdapat kursi dan meja dari ukiran kayu yang cukup indah dibandingkan dengan kursi yang berada di bagian luar. Yang menarik adalah di sudut ruangan sebelah kanan, ada stop kontak yang dapat digunakan untuk mengisi kekosongan telepon genggam kami. dengan percaya dirinya kami masuk dan  saya langsung mengeluarkan charger kemudian memasukannya ke dalam stop kontak itu. 5 menit kemudian, sudah ada sedikit amunisi yang dapat mendukung untuk melakukan panggilan kepada rekan saya itu. Bertepatan dengan selesainya saya menghubungi rekan saya yang ternyata teleponnya juga tidak dapat dihubungi, ada seorang bapak petugas KA yang lewat disamping kami. lalu saya dengan sopannya menegur dan berbasa-basi meminta izin “permisi pak, kami ikut mengecas hp disini.” Kemudian Ditutup dengan senyum dari kami berdua. Tanpa kami duga, ternyata bapak itu menjawab dengan sangat-jutek-sekali-bahkan-cenderung-sinis “ya kalau mau pake izin dulu dong sebelumnya.” Dan setelah itu pergi begitu saja. Kami saling bertatapan dan kemudian saya mencabut charger lalu segera hengkang dari tempat itu.

karena teman saya belum bisa dihubungi, maka dengan diskusi yang singkat, kami memutuskan untuk mencari penginapan di daerah dekat situ. Setidaknya kami dapat berbaring dan membersihkan diri dari perjalanan panjang yang mengurung kami. sambil menunggu waktu check in jam 11, kami berjalan-jalan di daerah sekitar, mencoba mengenal lingkungan dan karakter masyarakatnya yang ternyata sangat ramah dan welcome.

Kemudian di sela-sela obrolan yang sempat hening, saya tiba-tiba nyeletuk, “eh, lo percaya karma ga?”

“Hah? Maksud lo sunatullah?”

“Iya. Gw awalnya ragu, tapi sekarang gw yakin. Karma itu deket banget ya.”

“Kenapa emang tiba-tiba lo ngomong kayak gitu?”

“Lo nyadar ga sih, tadi kita disemprot ama petugas KA itu? seolah membalas ke-jutek-an gw tadi pagi pas di kereta. Cepet banget pembalasannya.”

“Oalaaaah, gw kirain kenapa. Ya bersyukurlah, langsung dibales di dunia. Ga ditangguhkan sampai nanti.”

“Iya.  Sepele sebenernya. Tapi ini ngerubah mindset gw, 180 derajat. JanjiNya itu pasti dan jelas.”

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” Al-Zalzalah:7-8