karma (2)

“Sesungguhnya rahmat Allah Swt amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)

Ini adalah bagian kedua, karena di setiap sesuatu akan ada dua sisi yang saling mengimbangi, juga melengkapi.

Lagi-lagi dalam perjalanan yang kali ini sudah terencana dari jauh-jauh hari, sehingga malah menjadi lupa bahwa ada hari yang sudah tertandai. Kali ini perjalanan cukup singkat, hanya 1 jam menggunakan burung besi, dengan tujuan Negara tetangga: Singapura. Ditemani dengan ransel yang sama, bersama dengan teman sepermainan, pukul 04.00 kami bertolak menuju bandara internasional Soetta. Karena ini menjadi pengalaman pertama saya keluar dari batas Negara, maka secara spontan terdaulatlah si teman yang sudah pernah, sebagai pemimpin perjalanan. Dimulailah petualangan kami yang ingin menyebut diri sebagai yangbagpackerer, tentu sebagai spesies baru karena perjalanan sejenis ini (mungkin) belum pernah dialami oleh para bagpacker lainnya.

Perjalanan seru ini dimulai dengan mencari hotel yang ternyata adalah motel sejenis asrama. Tempatnya terletak di ujung jalan dan kami sempat bingung mencarinya. Ternyata, meski si teman ini pernah beberapa kali pernah berkunjung ke Singapura, pencarian ini adalah kali pertamanya karena kunjungankunjungan sebelumnya bersama orangtuanya sehingga transportasi dan segala kebutuhan terfasilitasi. Kami benar-benar seperti bolang disana. Tanya kanan kiri dan di saat terlihat plang namanya, kami berseru gembira.

Belajar dari perjalanan sebelumnya, tips dan trik yang hemat adalah menghubungi kerabat/kenalan yang tinggal di tempt tujuan. Tentu hal itu juga berlaku bagi perjalanan kali ini. Kebetulan, di bulan sebelumnya, saya dan keluarga sempat menerima tamu mahasiswa dari malaysia dan singapura. Itupun tanpa sengaja, karena mereka adalah titipan dari paman yang kebetulan mengajar di Negara tetangga itu. maka saya dan adik didaulat untuk menjadi tour guide dadakan bagi mereka, mengantar ke tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi di bandung . di sela sela perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya, kami bercengkrama dan kemudian bertukar nama facebook iseng-iseng mencari obrolan, saya menginformasikan bahwa saya berencana mengunjungi negaranya. Alhamdulillah, mereka menyambut dengan baik dan meyakinkan untuk menghubungi mereka jika saya tiba disana nanti. Tentu pernyataan itulah yang akhirnya membuat saya berani untuk menghubungi mereka via facebook saat tiba di bandara changi.

Muncul masalah manakala telepon genggam saya tiba-tiba tersedot habis pulsanya, maklum karena baru pertamakali, saya tidak bersiap untuk mencari tahu layanan roaming internasional. HP milik rekan saya juga berlimit pulsa minimum, sehingga kami tidak dapat melakukan komunikasi via telepon diisaat mereka membalas dan memberikan nomor teleponnya. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli kartu telepon umum yang bias digunakan di area public manapun. Kemudian kami menelpon mereka dan membuat janji untuk bertemu setelah mereka pulang bekerja. Kemudian kami bertemu di saat malam menjelang, di masjid al-falah, orchard road.

Nadhirah dan Khadijah. Haniefah dan Astriah. Itu menjadi gurauan kami di pertemuan pertama itu. Selanjutnya kami diajak untuk menikmati pemandangan malam di marina bay dan kami ‘ditipu’ oleh mereka sehingga kami tidak membayar makanan pesanan kami. Waktu menunjukkan pukul 23.00 dan kami harus segera pulang menuju penginapan. Akhirnya kami berpisah setelah sekian lama mendiskusikan tempat yang akan dikunjungi esok hari.

Keesokan harinya, kami berpetualang tanpa bersama dengan mereka. Khadijah harus mengajar dan nadhirah mendapatkan tugas lembur. Kami merancang tujuan sebelum keluar dari penginapan, namun dalam prkateknya, list-list tempat itu tidak dapat terjajaki semua karena saat di perjalanan, kami menemukan tempat lain yang lebih menarik, tidak tertulis di buku Travellers guidance to Singapore yang saat itu dianggap sebagai buku primbon. Bis dan MRT menjadi pilihan transportasi kami berkeliling di negara yang luasnya tidak lebih besar dari Ibukota negara kita.

Hari selanjutnya, karena Khadijah memiliki tugas yang mengharuskan ia menuju kampusnya, maka kami kembali bersepakat untuk bertemu di Boon Lay MRT stasion dan bersama-sama menuju NUS dan NTU. Sore harinya, Khadija mengajak kakaknya bersama tunangannya untuk membawa kami menikmati malam. Khadija sangat mengerti kondisi keuangan kami sehingga tanpa perlu dikatakan untuk keduakalinya, dia membawa kami ke tempat yang tak berbayar, namun bisa mengambil foto sepuas-puasnya.

Di hari terakhir, kami diminta khadijah untuk mengunjungi kediamannya di apartment daerah Pasir Ris. Karena cuaca hujan disertai dengan tas kami yang ternyata bertambah besar volumenya, kami memutuskan untuk  menggunakan taksi. Setibanya kami di rumah Khadija, kami disambut dengan hangat oleh ayah, ibu, kakak dan adiknya. Di dinding rumahnya, tertempel foto keluarga yang beranggotakan 9 orang. Persis seperti keluarga saya.

Dirumahnya kami bercengkrama dengan sangat menyenangkan bersama Ayah, Ibu, adik dan 2 orang kakak Khadija. Kemudian kami disuguhi makanan khas melayu, terdiri dari makanan pembuka, inti, dan penutup. Pada detik itu pula, saya teringat tentang keluarga saya. Mak Cik, begitu kami memanggilnya, mengingatkan saya pada ibu saya. seringkali kami anak-anaknya membawa teman-teman berkunjung ke rumah kami di sudut kota kecil ini. Di saat itu ibu pasti dengan riweuh-nya menyediakan segala macam makanan, mengeluarkan persediaan yang tersisa di lemari es, lalu menghidangkannya untuk kami. Pernah suatu kali, adik saya yang bungsu nyeletuk, “enak ya kalo ada temen teteh dateng, kita pasti makanannya banyak. “

Spontanitas yang tidak dibuat-buat itu memang terasa adanya. Hari-hari kami terbiasa dengan lauk makan secukupnya, yang penting memenuhi gizi, tak perlu yang lezat. Prinsip ibu, “memuliakan tamu itu adalah ibadah. jadi kita makan setelah tamunya pulang ya. Hidangan yang tersisa itu tidak akan dihisab nantinya.” Kalimat itu yang keluar dari mulut ibu tiap kali kami merengek meminta makanan sebelum dihidangkan. Seringkali saya merasa bahwa yang dilakukan oleh ibu saya terlalu berlebihan. Tapi semenjak hari itu, hari dimana saya merasa sangat dimuliakan oleh Khadija dan dan keluarganya, saya berpikir bahwa sikap ber-lebai-an yang dilakukan ibu adalah sebuah panen kebaikan yang mungkin nanti dapat dipetik oleh siapapun di masa yang akan datang. menabung kebaikan padaNya, dan berharap Dia akan membalas dengan yang lebih baik lagi.

Kebaikan yang ditanam oleh ibu, mungkin tidak dirasakannya secara langsung, tapi diturunkan olehNya kepada saya melalui Mak Cik. persis seperti apa yang Ibu lakukan untuk tamu-tamunya.

Oya, kami juga diantar ke bandara, sampai batas akhir pengantar tidak boleh masuk, di saat kami akan memasuki gerbang untuk check-in.  hal itupun yang seringkali dilakukan oleh Ayah, mengantarkan tamu-tamunya hingga batas terakhir dimana ia merasa tak khawatir untuk melepas mereka kembali ke tempat asalnya.

Inilah karma. bukan tentang siapa, dimana, bilamana, dan bagaimana. tapi ia ada, sebagai janji yang tak pernah teringkari.


Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi…” (QS. Mukmin: 21).