Perjuangan

Life goes so fast.

Indonesia sudah di usianya yang ke 70. Sudah pas Ibu pertiwi kini untuk punya cicit. Sudah pas untuk merdeka yang sebenar-benarnya merdeka, lalu kemudian mulai memikirkan nasib anak cucu nya kelak dan berhenti memenuhi keinginan yang sekejap. Meski tentu berjuang memang tak bisa berhenti sampai terjadinya proklamasi, tapi usia yang tak muda lagi sudah menunggu bukti.

Ya, waktu memang menuntut untuk menjadi dewasa. Meski kadang usia tidak menjadi ukuran tetapi tentu harus menjadi peringatan.

Tepat 24 agustus yang akan datang, usia pernikahan kami genap 2 tahun. Semakin genap dengan kelahiran putra pertama kami pada 24 Juli 2015 lalu.

Banyak hal tidak terduga.

Tepat tadi malam di keheningan sambil menemani menyusui, ibu tetiba berujar: Yang perlu kamu lakukan hanya bersyukur nak. Suami yang pengertian dan sabar, rumah yang nyaman meski tidak besar, kendaraan yang cukup meski tidak mewah, dan kini pangeran kecil yang melengkapi kehidupan kamu. Tetaplah berjuang dengan kerendahan hati dimanapun kamu berada. Allah bersama orang2 yang bersyukur dan bersabar.

Ah ibu, bagaimanapun ibu tetaplah yang terbaik. Saat berkejaran dengan maut 3 minggu silam, yang teringat adalah ibu sudah 3,5 kali mati, jika dikatakan bahwa melahirkan adalah setengah mati. 7 kali melahirkan bagi ibu adalah anugerah nak. Itu yg ibu katakan padaku tepat setelah selesai proses yg menegangkan itu. Aku bahkan tak dapat membayangkan cerita ibu saat melahirkan aku anak pertamanya dalam kesendirian, hanya ditemani bidan dan suster, Mama hanya boleh masuk ruangan setelah proses persalinan selesai. Berbeda denganku kemarin, ada Ibu juga si calon Ayah. Secara mental, rasa lega sudah tersimpan. Meski sakit yang tidak tertahankan terasa begitu melekat, logikaku bermain bahwa tak lama setelah ini akan ada buncahan perasaan bahagia mendekap sesuatu yang selama 9 bulan kebelakang aku jaga dengan sangat baik.

Setiap kali ibu melahirkan, selalu ibu sambut dengan senang hati lalu ibu syukuri. Itu yang terpenting, Nak. Bahwa kita ikhlas menjadi seorang ibu, karena akan ada banyak hal yang berubah. Ego kita terabaikan, keinginan kita terpupuskan, semua menjadi utama untuk sang buah hati. Ah ibu, baru 3 minggu pun rasanya benar semua yang dikatakannya. Mungkin memang ada rasa lelah, tapi bahagia mengalahkannya. Tiap kali terbangun di malam hari karena pipis atau mulai merasa lapar, dia menangis, setelah selesai dengan hajatnya kemudian dia kembali tertidur sambil sesekali memainkan mulutnya hingga tersenyum. Hilang sudah kantuk. Ayahnya pun ikut tersenyum.

Ah ibu, mungkin inilah yang kau rasakan dahulu, juga sampai saat ini. Maka masih pantaskah kita untuk kufur terhadap nikmatNya? Itu yang selalu diingatkannya padaku saat aku mulai mengeluh kecil, berkisah tentang hal2 yg akan kuhadapi kelak, kecemasan di masa yang akan datang. Yang dilakukan ibu hanya mendengar, tersenyum dan kemudian bergumam: Allah tidak pernah menyuruh kita untuk mencari penyelesaian dari masalah masalah yang diberikanNya di dunia, Dia hanya meminta kita untuk sabar dan sholat. Karena tak pernah ada cobaan yang diberikanNya kecuali Dia yakin bahwa kita sanggup menghadapinya.  Yakin bahwa setiap apa yang Allah berikan adalah sebuah ujian untuk meningkatkan keimanan kita dan mendekatkan kita padaNya.

“Allah tidak membebani sesorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya. Mereka berdoa: Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kani lupa atau kami salah. Ya Tuhan kami janganlah Engkau bebankan pada kami beban yag berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Al-Baqoroh:286)

Bismillah Nak, tetaplah berjuang dengan kesabaran dan kerendahan hati.

Gadobangkong, 17 Agustus 2015

Memperingati 70 tahun kemerdekaan Indonesia, untuk para pejuang bangsa.
Sebuah tekad kuat untuk memerdekakan hati dengan syukur, sabar dan rendah hati. Karena hidup adalah tentang perjuangan.